Really a 1:4?
Berita baik buat para feminis dan para pendukung gerakan anti poligami. Tadi siang pas shalat dhuhur di mushala kantor, gue iseng-iseng aja baca majalah dinding-nya BDI Total. Dilihat dari tampilannya, kayaknya madding itu udah lama ga di-update sih. Maklum, biasanya gue lewat-lewat aja tanpa memperhatikan ada apa di madding.
Satu artikel yang menggelitik adalah soal poligami. Intinya, di dalam artikel itu dijelaskan bahwa sesungguhnya poligami itu tidak diperbolehkan dalam islam, dan hanya merupakan hak prerogative Nabi besar kita. Please refer to QS 33:50 (Al-Ahzab ayat 50). Di situ dinyatakan dengan sangat eksplisit.
Kenapa gue bilang menggelitik? Karena di artikel itu ditulis alasan-alasan yang biasa digunakan untuk berpoligami, antara lain “mengikuti sunnah nabi”, dan kalau mau relevan dengan keadaan Indonesia jaman sekarang, para pro-poligami-ers dengan seenak jidatnya bilang “Kasian kan kalo ada cewek yang nggak dapet pasangan? Kan laki-laki dibanding perempuan itu satu banding empat”. Oh yeahh? is that really it?
Rupanya si penulis artikel (dan tentunya juga udah melewati approval BDI kalau artikel itu bisa mejeng di sana) melakukan pengecekan sex ratio di Indonesia. Lihat situs www.bps.go.id, data terakhir tahun 2000. Di situs ini dijelaskan bahwa perbandingan jumlah laki-laki terhadap perempuan adalah 1,006 (ditulis dalam standar BPS 100,6) yang artinya dalam satu juta populasi perempuan di Indonesia terdapat “surplus” enam ribu orang laki-laki.. yang artinya lagi (based on data tahun 2000 di biro pusat statistik), dari sekitar 206 juta jiwa penduduk indonesia harusnya ada 600 ribu laki-laki yang kurang beruntung mendapat pasangan wanita. Well, ini asumsi “strict” ya. Tidak memperhitungkan jumlah homo di Indonesia. Tapi kalaupun dihitung, menurut gue jumlah homo nggak signifikan dibading yang masih normal. Okay, let’s say dari 600 ribu orang yang kurang beruntung itu adalah pasangan homo, berarti harusnya setiap 1 wanita akan berpasangan dengan 1 pria. Jadi, prinsip mereka yang “1:4” nggak valid dong? Belum lagi kalau kaum lesbian dihitung. Tentunya akan membuat para pria tambah ketar-ketir takut nggak punya pasangan.
Valid? Nanti dulu. Lihat distribusi berdasarkan kelompok umur. Anggap saja usia subur (maksud gue, usia dimana hasrat seksual terhadap lawan jenis mulai dan masih menggelora) yaitu antara 20 hingga 60 tahun. Kalau udah di atas 60 tahun dianggap mulai menghitung hari lahhh.. perbanyaklah ibadah, masa sih masih mau sering “gitu-gituan” juga?? Kalau dibawah 20 tahun, meskipun udah punya hasrat seksual tapi kayaknya masih terlalu kecil deh untuk mikirin pernikahan dan poligami. Sekolah aja dulu yang bener.
Well, dari hasil di BPS, ternyata perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan usia subur itu 1,002 yang artinya dari 104 juta orang usia subur di Indonesia maka akan ada 793 ribu laki-laki yang harusnya ketakutan bakal nggak dapet istri.
Kalau anda-anda yang pro poligami pasti akan sirik dengan artikel gue ini, kemudian membantah dengan:
- Ahh, itu kan data tahun 2000. Laju pertambahan penduduknya gimana antar perempuan dan laki-laki? Atau..
- Okay, itu kan jumlah penduduk yang betempat tinggal tetap. Gimana dengan yang tidak? Atau..
- Itu kan distribusi secara luas. Scope-nya Indonesia. Yang daerah terpencil jangan dihitung dong.. masa kami mau cari jodoh sampai ke hutan? Atau..
- Yah..banyak lah pembenaran yang bisa mereka cari.
Fyi aja nih ya, akhir-akhir ini gue amati lagi banyak banget bayi laki-laki. Kalau dibandingkan dengan data kelompok usia 0-4 tahun di BPS, harusnya sih laju pertambahan penduduk antara tahun 2000 dan sekarang relatif sama lah.

Comments