Tentang Aku
Namaku Putie Andriani. Cukup panggil aku Putie, maka aku akan menoleh. Aku lahir di Jakarta, tanggal 4 bulan Maret tahun 1982. Hari itu adalah hari kamis wage kalau menurut weton jawa.
Aku adalah wanita yang berasal dari Jawa. Papaku seorang ningrat dari Purwokerto (eh plis ya, jangan pernah komentar tentang “Mayangsari”), dan mamaku berasal dari Jogjakarta. Dari kecil hingga sebelum aku menikah, aku selalu menganggap orang Jawa adalah orang yang berasal dari Jawa Tengah saja. Aku bukannya nggak tahu ada orang-orang Jawa Timur, tetapi balik lagi ke persepsi awalku, aku selalu menyebut mereka sebagai “Orang Jawa Timur” dan bukan orang Jawa. Baru ketika aku pacaran dan menikah dengan pria yang berasal dari Jawa Timur, aku mulai menganggap Jawa Timur termasuk ke dalam “Jawa” versi aku.
Meskipun aku berasal dari keluarga “keturunan” Jawa, tidak berarti aku lancar berbahasa Jawa. Mungkin karena aku lahir dan dibesarkan di Jakarta, dan tidak didukung dengan lingkungan yang berbahasa Jawa, jadilah aku sebagai bukan penutur bahasa Jawa. Bahasa jawa kasar saja tidak, apalagi kromo inggil.
Cita-citaku
Waktu kecil, seperti pada umumnya anak kecil, aku bercita-cita menjadi dokter. Cita-citaku ini nggak bertahan lama, karena beberapa saat setelah itu aku selalu menjawab “mau jadi menteri perindustrian dan perdagangan” setiap kali ditanya. Hihi, padahal waktu itu ngerti juga nggak.
Ketika menginjak usia delapan tahun, aku berganti cita-cita lagi. Kali ini aku ingin jadi arsitek. Aku melihat tanteku yang bekerja sebagai arsitek “kok kayaknya asik banget ya”. Dia juga punya perusahaan sendiri. Saking sukanya dengan arsitektur, aku selalu mengamati setiap rubrik arsitektur yang ada di majalah langganan mamaku. Aku juga mencoba-coba untuk mendesain rumah. Aku mencoba mendesain dengan berbagai macam ukuran tanah. Banyak sekali hasil karyaku saat itu, tapi nggak tahu ya sekarang ada di mana. Kayaknya dibuang. Akupun menemukan bahwa bakatku memang di situ. Cita-citaku ini bertahan sangat lama. Hingga kelas dua SMU, aku masih mempertahankan cita-cita itu dan berniat masuk ke jurusan arsitektur ITB. Wah, hampir sepuluh tahun aku bertahan dengan cita-cita itu.
Sayang-disayang, rupanya aku nggak berjodoh dengan arsitektur. Krisis ekonomi tahun 1997-1998 membuat usaha tanteku gulung tikar. Secara umum, semua proyek di Indonesia yang berhubungan dengan konstruksi nyaris mati saat itu. Waktu itu aku masih kelas 1 atau 2 SMU. Ketidakpastian kapan ekonomi Indonesia akan pulih membuat aku berpikir berulang kali untuk akhirnya menjadi arsitek. Waktu itu aku masih sangat idealis. Aku nggak mau kalo pada akhirnya apa yang aku tekuni di kuliah selama bertahun-tahun tidak menjadi bidang kerjaku kelak. Ya toh? Aku pikir percuma kuliah di bidang arsitektur kalau nanti aku bekerja tidak sebagai arsitek. Pada saat itu memang aku berpikir bahwa tahun 2005-an mungkin saja perekonomian sudah membaik dan aku masih bisa bekerja menjadi arsitek. Tapiii, karena segalanya serba nggak pasti, akhirnya dengan berat hati aku mulai berpindah hati mencari yang lain.
Setelah membaca silabus-silabus beberapa jurusan beserta bidang kerja yang akan digeluti nantinya, aku mulai tertarik pada teknik kimia dan teknik industri. Tapiii aku juga masih nggak yakin akan ke manakah diriku nanti? Wah, setahun itu aku benar-benar tanya sana tanya sini supaya hatiku benar-benar mantap. Kebayang dong, udah sepuluh tahun mantap ingin jadi arsitek, sekarang benar-benar harus mulai lagi dari nol.
Karena hanya punya waktu setahun untuk meraba-raba sebelum ikutan UMPTN, akhirnya aku ikut psikotes untuk mengetahui bakatku. Hasilnya? aku disarankan masuk jurusan teknik kimia, teknik sipil, ataupun manajemen. Arsiteknya kemana? Mereka bilang aku nggak cukup kreatif untuk jadi arsitek. Welehhhhh..
Karena waktu itu aku belum sadar kalau aku ternyata berbakat di bidang manajemen, Akhirnya aku memilih teknik kimia. Aku pikir, aku memang tertarik (meskipun masih ragu TK atau TI), aku pikir toh hasil psikotes merekomendasikan aku untuk masuk teknik kimia berarti memang aku nggak akan kesulitan di situ.
Selain itu, aku juga berpikir bahwa TK itu jurusan yang langka. Nggak semua perguruan tinggi baik negeri atau swasta mempunyai jurusan itu (nggak kayak TI yang ada dimana-mana.. hehehe, pissss pisss ya buat anak TI), jadi aku berpikir bahwa sarjana Teknik kimia (atau seterusnya selalu dibilang insinyur proses) akan sangat dibutuhkan. Kalau soal manajemen yang dipelajari di TI, pada saat itu aku berpikir bahwa aku bisa belajar secara otodidak. So, mantaplah aku dengan keputusan tersebut.
Masa laluku
Waktu kecil, aku buandeeeeelllll banget, dan pemberani. Tanya aja sama mamaku. Bandelnya anak laki-laki banget. Mungkin karena mama dan papaku sangat ingin anak laki-laki ya. Sikapku juga mungkin dipengaruhi teman-teman masa kecilku yang mayoritas memang laki-laki. Wahhh, tiada hari tanpa bermain, ngelayap, dan nggak pernah belajar!
Aku mulai berubah ketika mau EBTANAS SD. Doktrin papa bahwa “mencari kerja nggak gampang” dan sedikit ancaman “kalau nggak bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, nggak usah kuliah aja sekalian” itu yang membuatku berpikir untuk mulai belajar serius. Aku percaya sekali kata-kata papaku. Waktu itu beliau pernah menyebut-nyebut ITB sebagai perguruan tinggi yang bagus disamping UNPAD dan UI. Tapi nggak tahu kenapa yang nyantol di otakku Cuma ITB aja. Selain itu, aku juga suka arsitektur, ya klop deh ama pilihanku untuk masuk ITB.
Papa memberi pengertian bahwa kuliah di perguruan tinggi negeri relatif memudahkan mencari kerja, selain juga nggak memberatkan orang tua. Jadi mulai SD aku sudah mulai merencanakan aku harus masuk ITB, sehingga pada saat itu aku tahu kalau sasaranku menuju ITB adalah dengan memasuki SMU dan SMP yang bagus. Mulai deh aku belajar keras di sisa-sisa hariku di SD supaya bisa masuk SMP bagus. Ntar di SMP juga belajar rajin supaya bisa masuk SMU bagus. Di SMU juga belajar supaya bisa masuk ITB.
Sedikit banyaknya, belajar keras selama 6 tahun dari SMP sampai SMU membuat aku berubah. Yaaa potensi bandel memang tetap ada (tanya aja sama suamiku. Hehe), tapi udah nggak sebandel SD dulu. Aku berubah menjadi seorang yang super serius dan berpola pikir “saklek” alias nggak fleksibel.. hmm, kayak pake kacamata kuda gitu lah. Kalau aku bilang “A” berarti harus “A” nggak boleh yang lain. Dan itu berlaku untuk segala segi kehidupan. Nggak heran kalau masa-masa SMP dan SMU ku berjalan datar-datar saja.
Setelah tujuanku masuk ITB tercapai, aku mulai menata diri kembali untuk “lebih banyak bermain” disamping tetap belajar. Jadilah aku ikut aktif di unit ini, unit itu, kongkow sana, kongkow sini, sampe bosen sendiri. Makanya, aku sangat menikmati masa-masa kuliahku. Dari orang yang saklek, aku mulai berubah menjadi seorang yang toleran dan santai. Selanjutnya, kelak pertemuanku dengan seorang pangeran bernama Nugroho Wibisono banyak membantuku sedikit-sedikit melepas kekakuan itu sehingga kini pola pikirku jauh lebih fleksibel ketimbang dulu.
Suamiku
Aku sangat mencintai suamiku. Namanya Nugroho Wibisono alias weby, biasa kupanggil dengan sebutan Mas. Dia memanggilku Putie. Jadi, nggak ada kata-kata aku dan kamu di antara kami, yang ada adalah Mas dan Putie.
Kami berkenalan sekitar awal 2003, dan baru jadian dua tahun kemudian. Kami berpacaran hanya setahun lebih kemudian kami menikah pada tanggal 12 Agustus 2006.
Suamiku orang jawa timur asli yang kalo udah ngomong bahasa jawa, logatnya meduoookkk banget. Tapi begitu ngomong bahasa Indonesia, medoknya bisa hilang seketika. Berkat suamiku, sekarang aku bisa berbahasa jawa pasif.
Suamiku adalah orang yang lucu, komunikatif, ekspresif, dan sayang banget sama anak-istri. Suamiku juga orang yang sabar dalam menghadapi istri yang rewel, dan tauuuuuu aja bagaimana cara meredakan kerewelan istri. Hehe. Beliau selalu bersedia diajak sharing, dan berdiskusi memecahkan berbagai permasalahan.
Suamiku juga seorang yang cerdas walaupun dia mengaku sangat malas hingga konon prestasinya dari SD hingga SMU selalu pas-pasan. Maksudnya sih ketika mau masuk SMU bagus, nilainya pas cukup untuk masuk.. Masuk ITB pun beliau bilang sebagai suatu “kebetulan”.
Sepengamatanku sejak kami pacaran, suamiku ini sangat taat beribadah. Apalagi sekarang =) Bahkan beliau yang selalu mencontohkan mengerjakan shalat-shalat sunnah.
Beliau ini sangat suka belajar terutama ilmu process engineering. Hehe, kalau aku sudah mulai malas belajar sekarang-sekarang ini, beliau kayaknya justru lagi giat-giatnya. Saking menyatunya ilmunya itu dengan dirinya, kalau di dalam mata kuliah pengendalian proses, kadang mood suamiku atau ketertarikannya terhadap sesuatu bisa kusamakan dengan grafik suatu sistem process yang sedang mengalami overshoot.
Sifat buruknya? Hehe, yah.. pokoknya kami sadar kalau masing-masing dari kami sama-sama punya sifat baik dan buruk. Tapi yang penting adalah kami bisa saling mengisi, dan selalu mau sama-sama belajar dan mengerti agar kami bisa sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Anakku
Aku sayang sekali sama anakku. Namanya Ayodya Aryandi. Sekarang umurnya 4 bulan. Ayodya sedang belajar tengkurap, main ludah, dan mulai belajar ngomong. Sekarang dia sudah bisa mengucapkan ma, mama, pa, papa, bababa, emmmbaa, ibuuuu, bu, appaaa, akuuu, gheee.. hihi, bawel banget deh.
Geraknya juga Alhamdulillah aktif banget. Kayaknya udah nggak sabar mau lari. Dia juga udah mulai bisa mengkoordinasikan gerakan kedua tangannya seperti masukin kedua tangannya ke mulut, mulai memegang sesuatu untuk dimasukin ke mulutnya.
Ayodya minumnya banyak banget. Hehe, mungkin ini karena pas dulu aku hamil makannya hablah.
Orang tuaku
Papa dan mamaku berprofesi sebagai dokter. Papa ahli di bidang patologi anatomi sedangkan mama dokter umum biasa. Bagiku, mama dan papaku adalah figur orang tua yang patut dikagumi dan dicontoh.
Mamaku, walaupun sangat sensi, aku patut mengacungkan jempol untuk keberhasilannya berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi dokter. Untuk wanita menikah yang bekerja, salah satu dari “keluarga atau karir” memang pada kenyataanya menuntut porsi lebih. Nggak gampang untuk menjalani keduanya sekaligus. Makanya aku kagum sekali sama mama karena bisa menyeimbangkan kedua peran itu. Karir mama sebagai dokter memang tidak terlalu “wah”, tapi aku tahu banyak kesempatan emas yang dengan sengaja beliau lepas demi memperhatikan keluarganya.
Papaku, walaupun sangat perhitungan, adalah seorang pekerja keras, ulet, prosedural, selalu berpikiran lurus, penuh perencanaan, dan sangat menyayangi keluarganya.
Banyak hal yang bisa aku pelajari dari mereka tentang bagaimana membangun sebuah keluarga yang baik. Tanggung jawab, penyelesaian masalah dengan berdiskusi, selalu ingat pada Allah, dan prinsip “apa yang ditabur itu yang dituai” adalah kata kunci yang selalu mereka ajarkan kepadaku.
Aku dan suami sering sekali berbagi cerita tentang pengalaman kami bersama kedua orang tua kami masing-masing. Dari situ, banyak hal baik yang bisa kami tiru untuk membangun keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiin!
Adik-adikku
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, ketiganya wanita, dan kedua adikku kembar. Gen kembar diwarisi dari papa. Adiknya papa ada yang kembar, tantenya papa ada yang kembar, dan eyangnya papa juga ada yang kembar. Hehe, kalau sebegitu jelas potensi kembarnya, boleh aja kan kalau aku dan suami ngarep punya anak kembar?
Nama kedua adikku adalah pungki dan pingki. Pungki saat ini masih kuliah di kedokteran gigi UI, sedangkan Pingki di seni rupa ITB. Mungkin karena kembar ya, mereka berdua sama-sama suka menggambar dan mendesain, terutama desain baju. Kalau anda-anda pernah lihat hasil karya mereka di atas kertas, wahhh terkagum-kagum deh lo!
Mereka sekarang ini lagi aktif hunting dan juga terlibat di dalam kegiatan yang berbau “fashion design”. Mereka juga udah mulai ikutan lomba rancang baju sana-sini.. dan lumayan lho bisa jadi finalis! Punya butik adalah rencana mereka setelah lulus nanti.

nih put, gue komen di blog lo...
btw, kok lo ngga cerita betapa narsisnya lo sih, huehehe... juga betapa gosipnya, betapa blank spotnya, dan betapa tukang tidurnya, kekekek... tapi klo soal memegang komitmen, putie itu betapa teguhnya... ;p
ayo put, bagi tips dunk, gue lagi diet nih, gimana ya caranya biar gue tetep komit? hehe...
Posted by: Feri | September 24, 2007 10:08 PM