ASI
Dulu gue pernah copy-paste artikel cara memerah ASI untuk ibu yang bekerja, yaitu dengan teknik marmet. Well, that method really works for me. Ga tau kenapa, gue merasa hasil perahan secara manual dengan teknik marmet jauh lebih banyak ketimbang menggunakan alat bantu seperti pompa ASI.
Seperti diketahui, hisapan bayi akan menstimulasi produksi ASI. Jadi, makin sering bayi menyusu maka produksi ASI akan semakin banyak.. dan itu gue alamin sendiri.
Minggu pertama melahirkan, produksi ASI gue nggak terlalu banyak. Kenapa?
1. Mungkin emang gue ga bakat. Bakat? eh jangan salah lho.. banyak calon ibu yang dari hamil usia kandungan 8-9 bulan (sebelum bayi lahir), ASI-nya sudah mulai netes-netes. Kalau gue sih bukan dari tipe yang begitu. Tapi bukan dari tipe begitu bukan berarti nggak bisa banyak memproduksi ASI lhoooo.
2. Waktu itu badan gue masih dalam tahap penyesuaian pasca operasi caesar. Kalau caesar, organ tubuh dari pinggang ke bawah dibius, jadinya gerak peristaltik usus juga otomatis terhenti ketika itu. Nah.. ketika pengaruh obat bius selesai, dimulailah normalisasi kerja usus. Tapi.. normalisasi ini ternyata nggak cepet. Jadi karena gerak usus belum oke (kalau kata dokter sih belum ada bising usus ketika mereka memeriksa dengan stetoskop), maka gue belum boleh makan. Akibatnya, ga ada asupan kalori sehingga dua hari pertama, belum ada ASI sama sekali. Baru hari ketiga deh ASI-nya mulai keluar.
3. Duh... karena pengaruh nomor dua itu, gue jadi sempet stress!! Mungkin itu yang disebut baby blues.. Stress ditambah takut ga bisa menyediakan yang terbaik untuk anak. Bayangin aja, anak gue jadi ga minum selama dua hari!! Banyak yang nanya kenapa sih ga dikasih formula aja dulu selama ASI belum keluar. Hmm, gue waktu itu masih mikir idealis tentang ASI eksklusif.. selain itu gue takut juga kalo anak gue pertama kali kenal susu formula, ntar malah nggak mau nyusu ama gue.. kan repot?! Tapi untungnya suami dan orang tua gue menyadarkan bahwa kondisi psikis akan mempengaruhi produksi ASI, dan kedekatan ibu dan bayinya. Well, they're right!
Nah.. setelah tenang.. produksi ASI mulai tuh meningkat sedikit demi sedikit. Apalagi mertua gue nyaranin gue minum suplemen MOLOCO-B12 yang bisa memicu produksi ASI. Trus, nyokap gue juga tiap hari selalu bikinin gue perkedel jagung, kacang-kacangan, air jeruk, dan sayur katuk yang konon bisa meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah, sekarang produksi ASI gue banyak.. ya itu didukung sama Ayodya juga sih. Ayodya nyusunya banyak banget!!
Dimana-mana, masalah ibu bekerja itu sama aja.. nggak bisa full nyusuin bayinya. Solusinya? ya perahlah ASI anda. Bisa dengan manual/teknik marmet (payudara diurut mulai dari pangkal ke bagian aerola), atau dengan pompa, tergantung mana yang lebih nyaman.
Kalau gue pribadi, di kantor gue biasa dua kali atau tiga kali merah ASI. Hal itu gue lakukan setiap 3 atau 4 jam sekali. Berhubung di kantor gue punya ruangan sendiri, ya di situlah gue memerah ASI. Kalau anda nggak punya ruangan sendiri, mungkin bisa gunakan ruang rapat. Yaaa sebisa mungkin hindarilah memerah di WC. Kalau di WC probabilitas nggak sterilnya lebih tinggi bo!
Truss..., ASI perahan itu ditampung di botol-botol susu yang ukurannya kecil. supaya lucu aja.. hehe. Selama masih di kantor, taro aja ASI perah itu di kulkas bagian bawah, jangan di freezer. Oya, jangan juga naro di suhu ruang. Kenapa? karena ASI hanya dapat bertahan selama 6 jam di suhu ruang. Pas pulang, ASI perah itu gue taro di coolbox, dan gue taburin blue ice yang sudah gue bekukan di freezer. Lumayan kan, selama perjalanan dari rumah ke kantor, ASI masih bisa terjaga.
Kalau gue, ASI perahan hari ini diberikan ke bayi untuk esok harinya. Berhubung kalau naro ASI di kulkas bawah itu bisa tahan sampai 2 hari, ya ngapain juga masuk ke freezer meskipun di freezer bisa tahan sampai 1 bulan. Masalahnya, kalau sudah ditaro di freezer, maka kandungan imunitasnya jadi nggak ada.. tapi anyhow, ASI di freezer itu masih tetap lebih baik ketimbang formula.
Nanti gimana cara ngasih ASI dingin itu ke bayi? well, jangan sekali-kali merebus ASI atau memanaskan ASI langsung dengan api. Cara yang baik adalah keluarkan ASI dingin itu dari kulkas hingga suhunya sama dengan suhu ruang. Lalu, rendam botol ASI (ingat, bersama dengan botolnya!) itu dengan air panas hingga panas ASI-nya suam-suam kuku.
Yaaa... gitu deh!

Comments