« Ayodya Aryandi: Aku Lahir di Bunda | Main | Perang Antar Operator »

June 21, 2007

Kontrasepsi

Salah satu rencana keluarga kami yang menyangkut masa depan adalah anak dan pendidikannya. Memang, tidak boleh ada istilah “main-main” untuk keluarga, terlebih lagi untuk anak. Sebagai titipan-Nya, anak layak mendapat kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan fasilitas terbaik yang mampu diusahakan orang tuanya.

Sejalan dengan tujuan pemerintah, keluarga kami juga berpikir bahwa kualitas mendidik anak (harap diingat, definisi mendidik tidak hanya terbatas pada istilah mengajar) akan lebih optimal jika kuantitas anak tidak terlalu banyak. Meskipun anak adalah karunia terbesar Tuhan yang bisa “datang” kapan saja jika Dia menghendaki, tetapi kita sebagai manusia bisa membatasi jumlah anak melalui perencanaan yang tepat; yaitu program keluarga berencana.

Tentunya, setelah Ayodya hadir di dunia ini, kami berencana untuk nambah anak lagi,. Dan mudah-mudahan Allah mengizinkan. Menurut gue pribadi, kehadiran saudara kandung dapat lebih memeriahkan suasana dalam keluarga selain saling memberikan hal positif bagi perkembangan psikologis anak. Dengan hadirnya saudara kandung, anak mempunyai teman berkomunikasi, belajar menghargai dan belajar berbagi sejak usia dini, de el el.

Rencananya, kapan mau nambah anak? Yaaaah, nanti dulu lah! Tidak dalam waktu dekat ini. Menurut kami berdua ada bagusnya untuk mengatur jarak kelahiran anak, karena saat ini kami sedang fokus pada perkembangan Ayodya. Selain itu, kami juga sedang belajar menjadi orang tua yang baik, dan terus saling belajar membangun tim yang solid untuk menjadikan keluarga kami sakinah mawaddah warahmah.

Yaaa, kebayang dong repot banget kalo Ayodya masih kecil gini trus perut gue udah mlendung lagi. Ayodya masih nyusu, belum bisa ini, belum bisa itu, kalo gue hamil lagi perhatian gue dan papanya juga pasti ga sepenuhnya buat Ayodya. Belum lagi stamina dan mood ibu hamil yang ga se-oke orang ga hamil. Bisa-bisa Ayodya malah ga keurus.

Menurut kami jarak 3-4 tahun adalah jarak yang bagus untuk kelahiran anak selanjutnya. Pada usia itu, diharapkan pengertian dan kemandirian anak pertama sudah mulai terbentuk sehingga gue dan suami bisa membagi perhatian untuk mengurus si kecil yang berikutnya.

Selain alasan itu, perencanaan jumlah anak dan rentang usia anak juga dilihat dari sisi ekonomi. Kami ingin sekali memberikan pendidikan terbaik untuk anak kami, maka dari itu kami benar-benar memperhitungkan kemampuan ekonomi dan kesanggupan usia kami untuk membiayai pendidikan anak-anak.

Well, sampai saat ini, berhubung masih dalam masa “40 hari”, kami masih mikir-mikir jenis kontrasepsi apa yang akan dipakai. Berbagai informasi dikumpulkan, dan walaupun informasinya begitu-begitu aja, tapi boleh lah ditaro di blog.

Jadi, menurut Dr. Gina Maya Rotty, SpOG dan situs resmi BKKBN, alat kontrasepsi itu secara umum digolongkan ke dalam dua bagian berdasarkan pengaruhnya pada hormon si wanita, yaitu: kontrasepsi hormonal dan kontrasepsi non-hormonal.

Kontrasepsi Hormonal

Yang termasuk alat kontrasepsi jenis ini adalah Susuk KB, Pil KB, dan Suntik KB. kontrasepsi hormonal mengandung hormon estrogen dan progesteron, atau kombinasi keduanya.

Pil KB

Pil KB adalah kontrasepsi berbentuk butiran obat yang diminum setiap hari pada waktu yang sama. Setiap periode minum adalah 21 hari dengan tenggang waktu 7 hari sebelum memulai periode selanjutnya. Dahulu kala, pil-pil KB berisi hormon estrogen saja. Konon pil dengan komposisi demikian tidak dipakai lagi karena menimbulkan efek samping seperti mual, muntah.

Sekarang, kontrasepsi hormonal kebanyakan berisi progesteron saja (POP = Progesterone Only Pill). Cara kerja pil jenis ini adalah dengan mengentalkan cairan leher rahim dan membuat kondisi rahim tidak menguntungkan bagi hasil pembuahan. Namun salah satu efek menggunakan pil KB yang berisi progesteron saja yaitu butuh waktu lama untuk mengembalikan kesuburan.

Sebagai pilihan lain, ada pil KB yang berisi kombinasi estrogen-progesteron (COC = Combined Oral Contraceptives) yang konon tidak menyebabkan waktu lama dalam pemulihan kesuburan. Cara kerja pil jenis ini adalah dengan mencegah pematangan dan pelepasan sel telur, mengentalkan lendir leher rahim sehingga menghalangi penetrasi sperma, dan membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan. Tapiiii, jelas dong ada efek sampingnya, yaitu membuat wajah berjerawat dan berkomedo.. Hmmm..

Susuk KB

Kontrasepsi implant atau susuk berisi hormon progesteron saja, digunakan dengan menyisipkan di lengan bagian atas. Di pasaran tersedia 3 macam susuk, yaitu yang terdiri dari 1 batang, 2 batang, dan 6 batang. Jenis 1 dan 2 batang sangat efektif untuk penggunaan 3 tahun sedangkan jenis 6 batang efektif untuk 5 tahun. Keuntungannya, segera setelah susuk diangkat, wanita dapat hamil. Kerugiannya, walaupun perubahan pola haid yang ditimbulkan masih dalam batas normal, namun kontrasepsi jenis ini harganya mahal.

Suntik KB

Penggunaan suntik KB ini adalah setiap 1 atau 3 bulan sekali. Efek samping yang ditimbulkan adalah gangguan perdarahan ringan diantara 2 masa haid, dan umumnya setelah pemakaian satu tahun sering tidak mengalami haid. Kenaikan berat badan juga biasa terjadi jika menggunakan kontrasepsi jenis ini.

Well, well, those all sound practice, tapi menurut gue main-main dengan hormon adalah sesuatu yang ga banget. Kenapa? Karena dari semua pilihan alat kontrasepsi yang ada, nggak ada satupun yang nggak bikin gendut! Gue juga ga terlalu ngerti ya pengaruh hormon estrogen dan progesteron dalam meningkatkan berat badan, tapi setau gue estrogen bisa menyebabkan retensi cairan dan garam yang bisa memicu pertambahan berat badan sedangkan progesteron bisa meningkatkan nafsu makan.. Lalu, semua harus digunakan secara teratur. Kalau nggak, ya bablas! Kalau anda adalah wanita pelupa, sebaiknya tidak menggunakan alat kontrasepsi yang membutuhkan kedisiplinan macam ini. Terakhir, alat-alat ini akan mengubah siklus menstruasi. Ketika kita perlu untuk menunda kehamilan sih oke aja, tapi ketika kita berencana untuk suatu kehamilan, akan butuh waktu lama untuk recover dan mengamati kembali siklus haid kita. Penentuan masa subur kita juga jadi akan lebih sulit.

Kontrasepsi Non Hormonal

Kontrasepsi non hormonal digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu kontrasepsi teknik (menyusui dan kalendar), kontrasepsi mekanik permanen (sterilisasi dengan tubektomi atau vasektomi), dan kontrasepsi mekanik non permanen (spiral dan kondom).

Menyusui dan Sistem Kalendar

Untuk mencegah kehamilan dengan sistem kalendar, udah pernah gue bahas jadi silahkan lihat kembali blog gue terdahulu. Well, untuk point menyusui, ternyata aktivitas menyusui bayi secara eksklusif (dalam 4 hingga 6 bulan pertama) menjadi cara alamiah untuk mencegah kehamilan. Pada saat menyusui, tubuh ibu memproduksi hormon prolaktin. Sementara secara timbal balik, kadar hormon ini menjadi tinggi untuk bisa tetap merangsang produksi ASI. Nah, sebagai efek sampingannya, peningkatan hormon prolaktin menyebabkan ovulasi tidak terjadi sehingga menstruasi pun jadi tertunda. Pada saat menyusui ini, tubuh ibu tak mampu menghasilkan sel telur yang matang. Jadi meskipun sel sperma berhasil masuk, sel telur yang ada tidak siap untuk dibuahi. Alhasil, kehamilan pun tidak terjadi.

Sterilisasi

Sterilisasi merupakan cara mantap atau permanen untuk mencegah kehamilan. Cara ini bisa dilakukan baik terhadap pria ataupun wanita. Pada pria disebut vasektomi (tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma) sedangkan pada wanita disebut tubektomi (pengikatan atau pemotongan saluran yang menghubungkan indung telur (ovarium) dan rahim). Keuntungan dari penggunaan kontrasepsi jenis ini adalah tidak adanya perubahan pada kemampuan dan kepuasan seksual.

Spiral

Bentuk_spiral_1 Spiral_dalam_rahim

Spiral disebut juga AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) atau IUD (intra Uterine Device). Penggunaan kontrasepsi jenis ini adalah dengan memasukkan alat kecil yang terbuat dari bahan plastik dan lentur ke dalam rongga rahim. Spiral ini dapat digunakan dalam jangka waktu  tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun. Konon, penggunaan spiral ini bersifat cocok-cocokkan. Jadi pada sebagian wanita pengguna dapat menimbulkan pendarahan sedangkan pada wanita lainnya tidak menimbulkan efek apapun.

Kondom

Bagaimana dengan kondom? kondom merupakan kontrasepsi modern yang paling sederhana. Dibanding alat kontrasepsi lain, kondom memang lebih aman karena tidak memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, dan dapat mencegah infeksi penyakit menular seksual (PMS).

Kerugiannya? Menurut www.bkkbn.go.id, beberapa pria merasa bahwa kondom mengganggu hubungan seks dan mengurangi kenikmatan. Selain itu, ada kemungkinan terjadi alergi terhadap zat pelumas yang menempel pada kondom. Oya, jangan lupa, ada batas waktu penggunaan kondom, lho.. jadi jangan pake kondom yang expired kalau nggak mau terjadi penis expiry. Hehe.


Satu hal yang diingatkan oleh Dr. Sarsanto adalah soal pemakaian kondom. Ia bilang, kondom harus ditarik sampai di pangkal penis. Yang sering terjadi, kondom hanya dipakai sampai tengah saja sehingga terjadi kebocoran atau tertinggal. Hiii.. kebayang ga sih kondom ketinggalan di dalem?!

Spermisida dan Dingklik?

Pernah dengar istilah spermisida? Seperti juga definisi dari insektisida yang berarti pembunuh serangga, spermisida juga berarti pembunuh sperma. Spermisida ini juga merupakan cara efektif pencegahan kehamilan. Tapi gue nggak tau ini digolongka ke bagian mana. Kayaknya sih kontrasepsi mekanik non permanen. Bentuknya seperti tissue. Harus dimasukkan ke dalam vagina setiap kali sebelum berhubungan, dan dilakukan sebelum mengadakan hubungan seks. Namun tissue KB ini tidak mudah didapat.

Kalau KB dingklik? Hmm.. entah siapa yang membuat istilah ini, tapi dokter ahli kandungan kita – Dr.Nugroho Wibisono, SpOG – berperan besar dalam mempopulerkan istilah ini kepada khalayak, terutama teman-teman beliau. Cara ini dinilai efektif bagi pasangan dimana tinggi badan si wanita lebih dibanding si pria.

                            

Comments

Berikut adalah hasil wawancara langsung dengan dr. Nugroho Wibisono, SpOG :

KB dingklik termasuk dalam kategori Kontrasepsi Non-Hormonal yang mana tergolong Kontrasepsi Mekanik Non-Permanen dimana "dingklik" (bahasa jawa: kursi kecil) termasuk peralatan mekanik yang dapat membuat perbedaan elevasi alat kelamin pria lebih tinggi daripada alat kelamin wanita, khusus untuk pasangan yang wanitanya yang lebih tinggi dari pria. Jenis kontrasepsi ini penggunaannya sangat khusus alias senggama harus dilakukan dalam keadaan berdiri dimana prianya berdiri diatas dingklik. Kurang lebih tekniknya adalah ketika dilakukan penetrasi dan sperma "persis akan" muncrat, maka wanita harus mengambil inisiatif menendang dingklik keras-keras sehingga senggama akan terhenti seketika. Cara ini mudah dilakukan dan murah (harga dingklik berapa seeh?) untuk pasangan yang wanitanya lebih tinggi dari prianya. Selamat mencoba.. tetapi.. dokter tidak bertanggung jawab apabila terjadi sakit, luka, atau cacat permanen tanpa mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Konsultasi kurang lebih sebagai berikut. Dokter harus menguji mempenetrasi langsung pasien wanitanya dulu dengan dingklik yang telah disediakan dan distandarisasi oleh PT Dingklik Antihamil Jaya Abadi untuk mengetahui apakah teknik ini sesuai atau tidak.. masih mau coba? hehehe

kadang ibu2 stlh melahirkan merasa aman2 saja tanpa menggunakan kontrasepsi dengan anggapan masih menyusui,padahal ada 3 syarat mutlak kontrasespi alami menyusui dapat berhasil.
satu..belum mendapat haid kembali
dua..menyusui anak yg masih mengkonsumsi asi secara ekslusif dan TIDAK mengkonsumsi makanan/minuman lain selain asi
tiga..(lupa hehe..bner2 lupa..kalo ada yg bisa membantu??tolong ditambahin)
nah..yg jelas kalo tiga hal itu dilanggar meski salah satu saja maka kehamilan sangat mungkin terjadi (ini alasan utama knapa bnyak ibu2 yg hamil lg meski anaknya masih berusia 3 ato 4 bln)

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .