December 07, 2007

Pindah Blog

Dear friends,

Please be noted that starting from now I will no longer write on friendster. I move all my writings to the wordpress domain one. As always, my current blog identity begins with my very famous mailing nick name without any punctual inside. See you all there, and hope you will enjoy it.

Regards,

Putie Andriani

                            

October 27, 2007

Time to say good bye to FS

Quando sono solo sogno allorizzonte e mancan le parole
Si lo so che non ce luce In una stanza quando manca il sole
Se non ci sei tu con me, con me.

Su le finestre, mostra a tutti il mio cuore, che hai acceso
Chiudi dentro me la luce che
Hai incontrato per strada

Time to say goodbye
Paesi che non ho mai
Veduto e vissuto con te
Adesso si li vivro.
Con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non esistono piu
It's time to say goodbye.

Quando sei lontana sogno allorizzonte e mancan le parole
E io si lo so che sei con me, con me
Tu mia luna tu sei qui con me
Mio sole tu sei qui con me, con me, con me, con me

Time to say goodbye
Paesi che non ho mai
Veduto e vissuto con te
Adesso si li vivro.
Con te partiro
Su navi per mari
Che io lo so
No no non esistono piu
Con te io li rivivro in my heart...

October 24, 2007

"Sexy" Man

Tadi siang di lobby kantor ada bapak-bapak yang pake kemeja tapi kancingnya dibuka tiga biji. Dia gak pake kaos pula dalemnya. Gayanya sih perlente, tapi tetap tidak mengurangi ke-nggak-banget-an-nya akibat upaya pamer dada yang dia lakukan. Ihhh.. ngerasa sexy banget sih?! sumpah PEDE mampus!

Untitled_1 Aduh sumpe deh, dari dulu gue ga pernah suka sama cowok (apalagi bapak-bapak) yang pake kemeja trus kancingnya dibuka dua atau tiga biji.. atau bahkan lebih! Untuk cowok yang dadanya bidang atau buluan aja gue males banget ngeliatnya, apalagi macem bapak-bapak tadi siang?! Njiji'i banget sih! Udah bisa dipastikan bahwa pria-pria yang berpenampilan seperti itu akan turun derajatnya di hadapan gue.

Heran deh, ada ya yang bisa merasa sexy dengan penampilan seperti itu? menurut gue sih penampilan seperti itu tidak memenuhi standar kelayakan berpakaian. Tidak mempunyai nilai etik dan estetik. Nggak elegan! nggak oke! nggak sopan! nggak banget lah pokoknya. Untuk nge-dugem aja kayaknya udah nggak oke deh, apalagi untuk acara formal macem ke perkantoran.

Untuk meramaikan blog dan agar para pembaca mendapat gambaran yang sama dengan gue tentang kemeja seperti apakah yang gue maksud, akhirnya gue berusaha googling nyari contoh gambar pria berkemeja sexy (?) itu. Setelah lama nggak nemu-nemu (karena keyword-nya nggak pas), maka akhirnya gue nemu juga gambarnya. Tau keyword apa yang dipakai? "Sexy Man". Cape deh.

October 10, 2007

Really a 1:4?

Berita baik buat para feminis dan para pendukung gerakan anti poligami. Tadi siang pas shalat dhuhur di mushala kantor, gue iseng-iseng aja baca majalah dinding-nya BDI Total. Dilihat dari tampilannya, kayaknya madding itu udah lama ga di-update sih. Maklum, biasanya gue lewat-lewat aja tanpa memperhatikan ada apa di madding.

Satu artikel yang menggelitik adalah soal poligami. Intinya, di dalam artikel itu dijelaskan bahwa sesungguhnya poligami itu tidak diperbolehkan dalam islam, dan hanya merupakan hak prerogative Nabi besar kita. Please refer to QS 33:50 (Al-Ahzab ayat 50). Di situ dinyatakan dengan sangat eksplisit.

Kenapa gue bilang menggelitik? Karena di artikel itu ditulis alasan-alasan yang biasa digunakan untuk berpoligami, antara lain “mengikuti sunnah nabi”, dan kalau mau relevan dengan keadaan Indonesia jaman sekarang, para pro-poligami-ers dengan seenak jidatnya bilang “Kasian kan kalo ada cewek yang nggak dapet pasangan? Kan laki-laki dibanding perempuan itu satu banding empat”. Oh yeahh? is that really it?

Rupanya si penulis artikel (dan tentunya juga udah melewati approval BDI kalau artikel itu bisa mejeng di sana) melakukan pengecekan sex ratio di Indonesia. Lihat situs www.bps.go.id, data terakhir tahun 2000. Di situs ini dijelaskan bahwa perbandingan jumlah laki-laki terhadap perempuan adalah 1,006 (ditulis dalam standar BPS 100,6) yang artinya dalam satu juta populasi perempuan di Indonesia terdapat “surplus” enam ribu orang laki-laki.. yang artinya lagi (based on data tahun 2000 di biro pusat statistik), dari sekitar 206 juta jiwa penduduk indonesia harusnya ada 600 ribu laki-laki yang kurang beruntung mendapat pasangan wanita. Well, ini asumsi “strict” ya. Tidak memperhitungkan jumlah homo di Indonesia. Tapi kalaupun dihitung, menurut gue jumlah homo nggak signifikan dibading yang masih normal. Okay, let’s say dari 600 ribu orang yang kurang beruntung itu adalah pasangan homo, berarti harusnya setiap 1 wanita akan berpasangan dengan 1 pria. Jadi, prinsip mereka yang “1:4” nggak valid dong? Belum lagi kalau kaum lesbian dihitung. Tentunya akan membuat para pria tambah ketar-ketir takut nggak punya pasangan.

Valid? Nanti dulu. Lihat distribusi berdasarkan kelompok umur. Anggap saja usia subur (maksud gue, usia dimana hasrat seksual terhadap lawan jenis mulai dan masih menggelora) yaitu antara 20 hingga 60 tahun. Kalau udah di atas 60 tahun dianggap mulai menghitung hari lahhh.. perbanyaklah ibadah, masa sih masih mau sering “gitu-gituan” juga?? Kalau dibawah 20 tahun, meskipun udah punya hasrat seksual tapi kayaknya masih terlalu kecil deh untuk mikirin pernikahan dan poligami. Sekolah aja dulu yang bener.

Well, dari hasil di BPS, ternyata perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan usia subur itu 1,002 yang artinya dari 104 juta orang usia subur di Indonesia maka akan ada 793 ribu laki-laki yang harusnya ketakutan bakal nggak dapet istri.

Kalau anda-anda yang pro poligami pasti akan sirik dengan artikel gue ini, kemudian membantah dengan:

  1. Ahh, itu kan data tahun 2000. Laju pertambahan penduduknya gimana antar perempuan dan laki-laki? Atau..

  2. Okay, itu kan jumlah penduduk yang betempat tinggal tetap. Gimana dengan yang tidak? Atau..

  3. Itu kan distribusi secara luas. Scope-nya Indonesia. Yang daerah terpencil jangan dihitung dong.. masa kami mau cari jodoh sampai ke hutan? Atau..

  4. Yah..banyak lah pembenaran yang bisa mereka cari.

Fyi aja nih ya, akhir-akhir ini gue amati lagi banyak banget bayi laki-laki. Kalau dibandingkan dengan data kelompok usia 0-4 tahun di BPS, harusnya sih laju pertambahan penduduk antara tahun 2000 dan sekarang relatif sama lah.

October 09, 2007

Imunisasi IPD

Berikut adalah copy-paste-an artikel tentang perlunya imunisasi IPD bagi bayi dibawah dua tahun. Sebaiknya sih dilakukan di bulan-bulan awal kehidupan sang bayi. Rekomendasi dokter anak yang biasa gue datengin, imunisasi ini dimulai pada usia 4 bulan, dilakukan tiga kali (IPD I, IPD II, dan IPD III), diberikan setiap dua bulan sekali (diselingi imunisasi DPT). Jadiii.. kalau bulan ke 3 dapet imunisasi DPT I, bulan ke 4 IPD I, bulan ke 5 DPT II, dst.

Karena imunisasi ini relatif baru di Indonesia dan belum masuk program imunisasi wajib dari pemerintah, maka harganya lumayan mahal sih.. Rp. 1 juta sekali suntik. Nah, mudah-mudahan untuk kedepannya pemerintah bisa memasukkan imunisasi ini ke dalam daftar imunisasi wajib untuk bayi.

***

Hampir 75 persen anak kecil dan bayi punya kandungan bakteri pneumokokus dalam saluran pernapasan mereka. Bakteri tersebut secara lebih khusus ditemukan pada bayi yang tidak mendapat air susu ibu (ASI), menderita infeksi virus dalam saluran pernapasan, perokok pasif akibat buruknya lingkungan sekitar.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan adanya ancaman tersembunyi yang bisa sangat mencemaskan tersebut. Dipastikan, satu juta bayi di bawah usia 2 tahun di negara berkembang meninggal akibat infeksi yang diakibatkan oleh bakteri tersebut.

Sering tanpa bisa terdeteksi secara cermat, infeksi pneumokokus kemudian menyerang beragam bagian tubuh. Jika masuk ke aliran darah disebut pneumokokus bakteremia. Kalau ke otak jadi meningitis (infeksi selaput otak). Jika menerobos ke paru disebut pneumonia, dan bila ke telinga menyebabkan otitis media akut. "Lebih mencemaskan lagi, pada kasus meningitis kematian akan menyerang 17 persen penderita hanya dalam waktu 48 jam," kata Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Survei kesehatan yang dilakukan di Indonesia tahun 2001 juga menempatkan pneumonia sebagai pembunuh anak balita nomor satu di negara kita. Dengan catatan angka 23 persen, maka pneumonia jauh mengungguli diare (13 persen), neurologi (12 persen), dan tipus yang hanya tujuh persen sebagai penyebab kematian anak balita. Mudah menular Bahkan, kalau tidak meninggal dan kemudian bayi tersebut sudah bisa dinyatakan sembuh, umumnya bakteri tadi tetap meninggalkan cacat permanen. Selain itu, juga bisa menyisakan ancaman pada gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang akan memunculkan gangguan motorik, kejang tanpa demam, keterbelakangan mental berikut ancaman kelumpuhan.

Memang, pada dasarnya anak-anak lebih mudah tertular penyakit yang populer disebut dengan istilah invasive pneumoccoccal disease (IPD) ini, sebab mereka masih belum punya kekebalan alamiah untuk bisa ikut membentengi diri. Selain itu, anak kecil senang bermain berkelompok, sehingga malah semakin menularkan kontak langsung dengan pembawa bakteri, bahkan hanya melalui batuk ringan atau bersin.

Bakteri pembunuh bayi tersebut sebenarnya sudah ditemukan Pasteur sejak tahun 1881, terdiri atas 90 stereotype, dan hanya sekitar 10 jenis dinyatakan berbahaya. Akan tetapi, meski sedikit, jenis yang berbahaya tersebut justru mampu menginfeksi secara cepat ke sirkulasi darah dan bersifat merusak. Sayangnya, penyakit ini sering terlewatkan dalam pengamatan lantaran gejalanya mirip demam biasa atau sifat rewel seorang bayi.

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, setiap tahun ditemukan 175.000 kasus IPD. Di Filipina, 35 persen bayi terkena IPD meninggal dunia. Sedangkan di Hongkong, lebih dari 19 persen anak membawa bakteri pneumokokus berbahaya pada saluran pernapasan mereka. Menyadari gawatnya IPD dan kenyataan bahwa pengobatannya bisa dipersulit dengan terjadinya peningkatan ketahanan bakteri terhadap sejumlah antibiotik, tidak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan melakukan vaksinasi. Langkah tersebut sejalan dengan telah ditemukannya vaksin pneumokokus, yang telah dipasarkan di AS sejak tahun 2000-an, dan sejak awal 2006 juga telah beredar di Indonesia.

Mengungkapkan persoalan ini ketika berbicara di muka Muktamar IDI di Semarang, pekan lalu, Sri Rezeki menegaskan, "Kami telah merekomendasikan upaya preventif sedini mungkin dengan vaksinasi pneumokokus kepada semua bayi dan anak di bawah usia dua tahun." Vaksin termaksud memang belum dimasukkan dalam pengembangan program imunisasi nasional yang dilakukan secara rutin, yaitu BCG, polio, Hepatitis B, DPT, dan campak. Sementara di AS, Australia, Eropa, dan Meksiko, penggunaan vaksin termaksud telah diwajibkan. Sri Rezeki mengakui, "Semuanya serba dilematis. Idealnya, oleh karena besarnya ancaman kematian terhadap bayi, vaksin ini harus bisa dimasukkan dalam program imunisasi nasional. Tetapi, jika pemerintah harus menanggung semuanya, anggarannya masih belum tersedia." "Mengingat kenyataan bahwa mengobati akan memakan biaya lebih mahal dan belum semuanya dipastikan berhasil, maka sebaiknya jangan mengambil risiko. Begitu bayi lahir, langsung saja dilakukan vaksinasi pneumokokus, yang memang bisa dilakukan berbarengan dengan pemberian vaksin lain," ungkap Sri Rezeki.

Julius Pour, Wartawan, Tinggal di Tangerang

Malaysia

Gue ga habis pikir deh.. Malaysia tuh kenapa sih? belum selesai kasus pemukulan wasit, udah disambung lagi sama kasus pengakuan hak cipta atas lagu rasa sayange yang katanya mau dipakai untuk yell-yell pariwisatanya. Trus tadi sore di radio gue denger doi buat masalah lagi.

Jadi ceritanya sih hampir mirip.. salah tangkep orang yang udah keburu dicurigai TKI illegal. Nah, kebetulan yang ditangkep itu istri salah satu konsulat RI. Meskipun udah nunjukin identitas diri berupa keanggotaan diplomatik, tetep aja ditangkep coy!

Begitu ya saudara serumpun? jadi males banget nggak sih ke Malaysia? Kayaknya kejadian ribut-ribut Indonesia-Malaysia emang bukan akhir-akhir ini aja sih.. Gue inget pelajaran sejarah dulu dengan slogannya "GANYANG MALAYSIA".. kayaknya udah bener tuh.

October 03, 2007

Kisah Tobat Seorang "nyaris" Playboy

Alhamdulillah, satu orang lagi tobat di bulan suci ini. Kekekekeksss..

Kriiiing…

Pagi-pagi udah ada yang nelpon gue ke kantor. Dari dering teleponnya sih gue yakin itu “orang dalem” kantor. Duuhh, belum juga jam 7.30! rajin amat! siapa sih ? ternyata..

Tiba-tiba aja dia nelpon nanyain G***ka, temen gue yang juga mantan pacar dia. Mereka pacaran pas SMP. Long time ago! Makanya pas tadi dia nelpon, gue baru inget lagi kalo si G***ka itu mantannya dia. Dia nanyain apa bener si G***ka udah married dan punya anak. Meskipun cuma pertanyaan singkat, tapi gue sebagai pihak yang ditanya – sebelum memberi jawaban – perlu tahu dong kenapa dia tiba-tiba nelpon dan nanya soal itu (secara dia nelpon gue pun jarang-jarang kalo ga perlu-perlu amat).

“Yaa, soalnya tadi gue baru denger mantan gue ada yang mau nikah.. jadi keinget aja sih si G***ka ini kayaknya udah married ya?” dia nanya lagi.

“Oooh, begitu. Iya, dia udah married dan udah punya anak. Kok lu baru tau sih? Jarang buka FS ya?”

“Gue ga punya FS kaleee..”

Oh iya ya.. gue baru inget kalo dia salah satu orang yang anti punya profile di FS.

“Eh? Yang tadi lu bilang mau nikah tuh yang waktu itu nganterin lu ke bandara ya?” Gue tanya gitu karena gue tahu pacarnya yang sekarang kerjanya satu gedung ama gue.

“Bukan!!! Eh, bentar, yang mana ya?”

“Itu lho...siapa sih namanya.. hmm.. Rima!”

“Rima? R**mi kali?!”

“Bukan.. R**mi sih waktu jaman kita SMU kan?!”

“Jadi, siapa?”

“Itu.. yang waktu itu nganterin kita ke bandara pas kita pertama kali mau ke Balikpapan”

“Siapa??”

Waahh.. jelas-jelas waktu itu dia bawa ceweknya. Nggak berkesan banget tuh cewek.

“Hmm.. N*sa!” akhirnya gue inget.

“Ohh..bukan.. bukan dia yang mau nikah.”

“Gileee..siapa lagi? banyak amat mantan lu?! Playboy juga ya lu..”

“Sialan! @$@(^*)@$%&)!!!!!!”

Dan akhirnya kami sama-sama mulai menghitung berapa jumlah mantannya. Baik ketika dia sudah mengenal gue maupun sebelum dia mengenal gue.

Gue kenal dia udah sepuluh tahun lebih. Dia temen dari SMU terus lanjut bareng ke ITB walaupun beda jurusan dan akhirnya kita kerja di kantor yang sama meskipun beda divisi pula. Kenal banget dong?! Ya nggak juga. Tapi selama gue kenal dia, gue selalu update pacar-pacarnya dia siapa aja.

Really a playboy ? nggak tau juga sih, karena gue tahu dia tipe yang serius setiap kali pacaran. Tapi kalo lihat jumlah mantannya? masa mau dibilang bukan playboy? Yang bener aja!

Masalahnya gue kenal dia sebagai temen, dan nggak ada urusan soal hati, jadinya di mata gue sih dia baik-baik aja. Emang karena sebagai temen, dia baik banget. Mungkin persepsi gue beda ya kalo kenal dia sebagai pacar. Hehe, untungnya kami sama-sama nggak pernah memenuhi kriteria masing-masing, nggak pernah ada chemistry lah..jadinya pertemanan kami bisa lebih objektif. Julukan playboy pun baru aja gue stempel ke jidatnya pagi ini gara-gara ketauan jumlah mantannya buanyaaaakkk banget, tapi itupun langsung buru-buru gue apus lagi gara-gara di ujung pembicaraan dia menyatakan keinginannya untuk bertobat. Bagusss...

“Gile ya, mantan gue udah pada nikah semua gini..” Ujung-ujungnya dia malah curhat. Dia minta didoain aja supaya hubungannya sama yang sekarang ini bisa berjalan lancar. Katanya sih ada pikiran untuk melangkah ke pernikahan sama yang terakhir ini. Amiiin!

Hmm, baguslah! Gue pikir juga kalo udah seiman, ngerasa nyambung, dan udah siap mental, kenapa nggak nikah aja? Emangnya apa lagi yang dikejar? Duit? Toh bisa dicari bareng-bareng. Atauuu calonnya? Kalo nyari calon yang perfectly matched our criteria, gue yakin nggak akan pernah nemu sampai kapanpun. Atau masih belum merasa "siap"? Cape dehhh.

September 18, 2007

Tentang Aku

Namaku Putie Andriani. Cukup panggil aku Putie, maka aku akan menoleh. Aku lahir di Jakarta, tanggal 4 bulan Maret tahun 1982. Hari itu adalah hari kamis wage kalau menurut weton jawa.

Aku adalah wanita yang berasal dari Jawa. Papaku seorang ningrat dari Purwokerto (eh plis ya, jangan pernah komentar tentang “Mayangsari”), dan mamaku berasal dari Jogjakarta. Dari kecil hingga sebelum aku menikah, aku selalu menganggap orang Jawa adalah orang yang berasal dari Jawa Tengah saja. Aku bukannya nggak tahu ada orang-orang Jawa Timur, tetapi balik lagi ke persepsi awalku, aku selalu menyebut mereka sebagai “Orang Jawa Timur” dan bukan orang Jawa. Baru ketika aku pacaran dan menikah dengan pria yang berasal dari Jawa Timur, aku mulai menganggap Jawa Timur termasuk ke dalam “Jawa” versi aku.

Meskipun aku berasal dari keluarga “keturunan” Jawa, tidak berarti aku lancar berbahasa Jawa. Mungkin karena aku lahir dan dibesarkan di Jakarta, dan tidak didukung dengan lingkungan yang berbahasa Jawa, jadilah aku sebagai bukan penutur bahasa Jawa. Bahasa jawa kasar saja tidak, apalagi kromo inggil.

Cita-citaku

Waktu kecil, seperti pada umumnya anak kecil, aku bercita-cita menjadi dokter. Cita-citaku ini nggak bertahan lama, karena beberapa saat setelah itu aku selalu menjawab “mau jadi menteri perindustrian dan perdagangan” setiap kali ditanya. Hihi, padahal waktu itu ngerti juga nggak.

Ketika menginjak usia delapan tahun, aku berganti cita-cita lagi. Kali ini aku ingin jadi arsitek. Aku melihat tanteku yang bekerja sebagai arsitek “kok kayaknya asik banget ya”. Dia juga punya perusahaan sendiri. Saking sukanya dengan arsitektur, aku selalu mengamati setiap rubrik arsitektur yang ada di majalah langganan mamaku. Aku juga mencoba-coba untuk mendesain rumah. Aku mencoba mendesain dengan berbagai macam ukuran tanah. Banyak sekali hasil karyaku saat itu, tapi nggak tahu ya sekarang ada di mana. Kayaknya dibuang. Akupun menemukan bahwa bakatku memang di situ. Cita-citaku ini bertahan sangat lama. Hingga kelas dua SMU, aku masih mempertahankan cita-cita itu dan berniat masuk ke jurusan arsitektur ITB. Wah, hampir sepuluh tahun aku bertahan dengan cita-cita itu.

Sayang-disayang, rupanya aku nggak berjodoh dengan arsitektur. Krisis ekonomi tahun 1997-1998 membuat usaha tanteku gulung tikar. Secara umum, semua proyek di Indonesia yang berhubungan dengan konstruksi nyaris mati saat itu. Waktu itu aku masih kelas 1 atau 2 SMU. Ketidakpastian kapan ekonomi Indonesia akan pulih membuat aku berpikir berulang kali untuk akhirnya menjadi arsitek. Waktu itu aku masih sangat idealis. Aku nggak mau kalo pada akhirnya apa yang aku tekuni di kuliah selama bertahun-tahun tidak menjadi bidang kerjaku kelak. Ya toh? Aku pikir percuma kuliah di bidang arsitektur kalau nanti aku bekerja tidak sebagai arsitek. Pada saat itu memang aku berpikir bahwa tahun 2005-an mungkin saja perekonomian sudah membaik dan aku masih bisa bekerja menjadi arsitek. Tapiii, karena segalanya serba nggak pasti, akhirnya dengan berat hati aku mulai berpindah hati mencari yang lain.

Setelah membaca silabus-silabus beberapa jurusan beserta bidang kerja yang akan digeluti nantinya, aku mulai tertarik pada teknik kimia dan teknik industri. Tapiii aku juga masih nggak yakin akan ke manakah diriku nanti? Wah, setahun itu aku benar-benar tanya sana tanya sini supaya hatiku benar-benar mantap. Kebayang dong, udah sepuluh tahun mantap ingin jadi arsitek, sekarang benar-benar harus mulai lagi dari nol.

Karena hanya punya waktu setahun untuk meraba-raba sebelum ikutan UMPTN, akhirnya aku ikut psikotes untuk mengetahui bakatku. Hasilnya? aku disarankan masuk jurusan teknik kimia, teknik sipil, ataupun manajemen. Arsiteknya kemana? Mereka bilang aku nggak cukup kreatif untuk jadi arsitek. Welehhhhh..

Karena waktu itu aku belum sadar kalau aku ternyata berbakat di bidang manajemen, Akhirnya aku memilih teknik kimia. Aku pikir, aku memang tertarik (meskipun masih ragu TK atau TI), aku pikir toh hasil psikotes merekomendasikan aku untuk masuk teknik kimia berarti memang aku nggak akan kesulitan di situ.

Selain itu, aku juga berpikir bahwa TK itu jurusan yang langka. Nggak semua perguruan tinggi baik negeri atau swasta mempunyai jurusan itu (nggak kayak TI yang ada dimana-mana.. hehehe, pissss pisss ya buat anak TI), jadi aku berpikir bahwa sarjana Teknik kimia (atau seterusnya selalu dibilang insinyur proses) akan sangat dibutuhkan. Kalau soal manajemen yang dipelajari di TI, pada saat itu aku berpikir bahwa aku bisa belajar secara otodidak. So, mantaplah aku dengan keputusan tersebut.

Masa laluku

Waktu kecil, aku buandeeeeelllll banget, dan pemberani. Tanya aja sama mamaku. Bandelnya anak laki-laki banget. Mungkin karena mama dan papaku sangat ingin anak laki-laki ya. Sikapku juga mungkin dipengaruhi teman-teman masa kecilku yang mayoritas memang laki-laki. Wahhh, tiada hari tanpa bermain, ngelayap, dan nggak pernah belajar!

Aku mulai berubah ketika mau EBTANAS SD. Doktrin papa bahwa “mencari kerja nggak gampang” dan sedikit ancaman “kalau nggak bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, nggak usah kuliah aja sekalian” itu yang membuatku berpikir untuk mulai belajar serius. Aku percaya sekali kata-kata papaku. Waktu itu beliau pernah menyebut-nyebut ITB sebagai perguruan tinggi yang bagus disamping UNPAD dan UI. Tapi nggak tahu kenapa yang nyantol di otakku Cuma ITB aja. Selain itu, aku juga suka arsitektur, ya klop deh ama pilihanku untuk masuk ITB.

Papa memberi pengertian bahwa kuliah di perguruan tinggi negeri relatif memudahkan mencari kerja, selain juga nggak memberatkan orang tua. Jadi mulai SD aku sudah mulai merencanakan aku harus masuk ITB, sehingga pada saat itu aku tahu kalau sasaranku menuju ITB adalah dengan memasuki SMU dan SMP yang bagus. Mulai deh aku belajar keras di sisa-sisa hariku di SD supaya bisa masuk SMP bagus. Ntar di SMP juga belajar rajin supaya bisa masuk SMU bagus. Di SMU juga belajar supaya bisa masuk ITB.

Sedikit banyaknya, belajar keras selama 6 tahun dari SMP sampai SMU membuat aku berubah. Yaaa potensi bandel memang tetap ada (tanya aja sama suamiku. Hehe), tapi udah nggak sebandel SD dulu. Aku berubah menjadi seorang yang super serius dan berpola pikir “saklek” alias nggak fleksibel.. hmm, kayak pake kacamata kuda gitu lah. Kalau aku bilang “A” berarti harus “A” nggak boleh yang lain. Dan itu berlaku untuk segala segi kehidupan. Nggak heran kalau masa-masa SMP dan SMU ku berjalan datar-datar saja.

Setelah tujuanku masuk ITB tercapai, aku mulai menata diri kembali untuk “lebih banyak bermain” disamping tetap belajar. Jadilah aku ikut aktif di unit ini, unit itu, kongkow sana, kongkow sini, sampe bosen sendiri. Makanya, aku sangat menikmati masa-masa kuliahku. Dari orang yang saklek, aku mulai berubah menjadi seorang yang toleran dan santai. Selanjutnya, kelak pertemuanku dengan seorang pangeran bernama Nugroho Wibisono banyak membantuku sedikit-sedikit melepas kekakuan itu sehingga kini pola pikirku jauh lebih fleksibel ketimbang dulu.

Suamiku

Aku sangat mencintai suamiku. Namanya Nugroho Wibisono alias weby, biasa kupanggil dengan sebutan Mas. Dia memanggilku Putie. Jadi, nggak ada kata-kata aku dan kamu di antara kami, yang ada adalah Mas dan Putie.

Kami berkenalan sekitar awal 2003, dan baru jadian dua tahun kemudian. Kami berpacaran hanya setahun lebih kemudian kami menikah pada tanggal 12 Agustus 2006.

Suamiku orang jawa timur asli yang kalo udah ngomong bahasa jawa, logatnya meduoookkk banget. Tapi begitu ngomong bahasa Indonesia, medoknya bisa hilang seketika. Berkat suamiku, sekarang aku bisa berbahasa jawa pasif.

Suamiku adalah orang yang lucu, komunikatif, ekspresif, dan sayang banget sama anak-istri. Suamiku juga orang yang sabar dalam menghadapi istri yang rewel, dan tauuuuuu aja bagaimana cara meredakan kerewelan istri. Hehe. Beliau selalu bersedia diajak sharing, dan berdiskusi memecahkan berbagai permasalahan.

Suamiku juga seorang yang cerdas walaupun dia mengaku sangat malas hingga konon prestasinya dari SD hingga SMU selalu pas-pasan. Maksudnya sih ketika mau masuk SMU bagus, nilainya pas cukup untuk masuk..  Masuk ITB pun beliau bilang sebagai suatu “kebetulan”.

Sepengamatanku sejak kami pacaran, suamiku ini sangat taat beribadah. Apalagi sekarang =) Bahkan beliau yang selalu mencontohkan mengerjakan shalat-shalat sunnah.

Beliau ini sangat suka belajar terutama ilmu process engineering. Hehe, kalau aku sudah mulai malas belajar sekarang-sekarang ini, beliau kayaknya justru lagi giat-giatnya. Saking menyatunya ilmunya itu dengan dirinya, kalau di dalam mata kuliah pengendalian proses, kadang mood suamiku atau ketertarikannya terhadap sesuatu bisa kusamakan dengan grafik suatu sistem process yang sedang mengalami overshoot.

Sifat buruknya? Hehe, yah.. pokoknya kami sadar kalau masing-masing dari kami sama-sama punya sifat baik dan buruk. Tapi yang penting adalah kami bisa saling mengisi, dan selalu mau sama-sama belajar dan mengerti agar kami bisa sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Anakku

Aku sayang sekali sama anakku. Namanya Ayodya Aryandi. Sekarang umurnya 4 bulan. Ayodya sedang belajar tengkurap, main ludah, dan mulai belajar ngomong. Sekarang dia sudah bisa mengucapkan ma, mama, pa, papa, bababa, emmmbaa, ibuuuu, bu, appaaa, akuuu, gheee.. hihi, bawel banget deh.

Geraknya juga Alhamdulillah aktif banget. Kayaknya udah nggak sabar mau lari. Dia juga udah mulai bisa mengkoordinasikan gerakan kedua tangannya seperti masukin kedua tangannya ke mulut, mulai memegang sesuatu untuk dimasukin ke mulutnya.

Ayodya minumnya banyak banget. Hehe, mungkin ini karena pas dulu aku hamil makannya hablah.

Orang tuaku

Papa dan mamaku berprofesi sebagai dokter. Papa ahli di bidang patologi anatomi sedangkan mama dokter umum biasa. Bagiku, mama dan papaku adalah figur orang tua yang patut dikagumi dan dicontoh.

Mamaku, walaupun sangat sensi, aku patut mengacungkan jempol untuk keberhasilannya berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi dokter. Untuk wanita menikah yang bekerja, salah satu dari “keluarga atau karir” memang pada kenyataanya menuntut porsi lebih. Nggak gampang untuk menjalani keduanya sekaligus. Makanya aku kagum sekali sama mama karena bisa menyeimbangkan kedua peran itu. Karir mama sebagai dokter memang tidak terlalu “wah”, tapi aku tahu banyak kesempatan emas yang dengan sengaja beliau lepas demi memperhatikan keluarganya.

Papaku, walaupun sangat perhitungan, adalah seorang pekerja keras, ulet, prosedural, selalu berpikiran lurus, penuh perencanaan, dan sangat menyayangi keluarganya.

Banyak hal yang bisa aku pelajari dari mereka tentang bagaimana membangun sebuah keluarga yang baik. Tanggung jawab, penyelesaian masalah dengan berdiskusi, selalu ingat pada Allah, dan prinsip “apa yang ditabur itu yang dituai” adalah kata kunci yang selalu mereka ajarkan kepadaku.

Aku dan suami sering sekali berbagi cerita tentang pengalaman kami bersama kedua orang tua kami masing-masing. Dari situ, banyak hal baik yang bisa kami tiru untuk membangun keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiin!

Adik-adikku

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, ketiganya wanita, dan kedua adikku kembar. Gen kembar diwarisi dari papa. Adiknya papa ada yang kembar, tantenya papa ada yang kembar, dan eyangnya papa juga ada yang kembar. Hehe, kalau sebegitu jelas potensi kembarnya, boleh aja kan kalau aku dan suami ngarep punya anak kembar?

Nama kedua adikku adalah pungki dan pingki. Pungki saat ini masih kuliah di kedokteran gigi UI, sedangkan Pingki di seni rupa ITB. Mungkin karena kembar ya, mereka berdua sama-sama suka menggambar dan mendesain, terutama desain baju. Kalau anda-anda pernah lihat hasil karya mereka di atas kertas, wahhh terkagum-kagum deh lo!

Mereka sekarang ini lagi aktif hunting dan juga terlibat di dalam kegiatan yang berbau “fashion design”. Mereka juga udah mulai ikutan lomba rancang baju sana-sini.. dan lumayan lho bisa jadi finalis! Punya butik adalah rencana mereka setelah lulus nanti.

September 14, 2007

Kahlil Gibran: Kehidupan Sebuah Cinta

MUSIM SEMI
Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan, salju telah cair dan kehidupan telah terjaga dari lenanya dan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah.

Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkaui ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan 'tuk menadah ilham dari aras ketinggian, di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya pada pohon pic dan sitrus, dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi Malam Kedre. Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih. Air kali pun lincah berlompatan menari ria di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang. Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam, laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan.

Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air mata musim dingin, dari gelas kelopak bunga lili, Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-nada curahan simfoni burung-burung yang berkicauan dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan.

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet berteduh dalam persembunyian, dan meniru kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.

MUSIM PANAS

Mari pergi ke ladang, kekasihku, kerana musim menuai telah tiba, dan cahaya surya telah memanggang gandum kuning-kekuningan. Mari kita mengerjakan hasil bumi, sebagaimana semangat kegembiraan menyuburkan butir gandum dari benih cinta-kasih, yang tertanam dalam sanubari.

Mari mengisi guni kita dengan limpahan hasil bumi bagai kehidupan mengisi penuh rongga hati, dengan harta kekayaan tak terperi.

Mari, jadikan bunga-bunga alas tilam kita dan langit biru selimut kita. Sandarkan kepala di bantal harum jerami, mari kita berehat setelah bekerja sepanjang hari, sambil mendengar bisik gemercik air sungai yang menyanyi.

MUSIM GUGUR

Mari kita pergi memetik anggur di perkebunan dan memerah sari buah segar, dan menyimpannya di jambangan tua. Sebagaimana jiwa menyimpan ilmu pengetahuan abad-abad lalu, dalam gedung keabadian.

Dan sekarang mari pulang, kerna sang bayu telah menerbangkan daun-daun kuning dan mengisar bunga-bunga layu, yang membisikkan dendang kematian pada Musim Gugur.

Mari pulang, kekasihku abadi, kerana burung-burung telah terbang bagi perjalanan migrasi menuju kehangatan. Meninggalkan padang yang dingin dan kesepian.Bunga mirtel dan melati pun telah lama mengeringkan air matanya.

Mari kembali, sebab anak sungai yang sayu telah kehabisan lagu, dan sumber air yang lincah telah membisu, enggan mengucapkan kata perpisahan.

Sedang bukit-bukit tua telah mulai melipat pakaiannya yang berwarna-warni.

Mari, kekasihku; Alam telah letih,Ia bersemangat melambaikan selamat tinggal dengan dendangan sayup dan ketenangan.

MUSIM DINGIN

Dekatlah ke mari,oh teman sepanjang hidupku, dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin mencelah di antara kita.

Duduklah disampingku di depan tungku, sebab nyalaan api adalah satu-satunya nyawa musim ini.

Bicaralah padaku tentang kekayaan hatimu, yang jauh lebih besar daripada unsur Alam yang menggelodak di luar pintu.

Palanglah pintu dan patri engselnya, sebab wajah angkasa menekan semangatku dan pemandangan ladang-ladang salju menimbulkan tangis dalam jiwaku.

Tuangkan minyak ke dalam lampu, jangan biarkan ia pudar. Letakkan dekat wajahmu, supaya aku boleh membaca dalam tangis apa yang telah ditulis pada wajahmu tentang kehidupan kau bersamaku.

Berilah aku anggur Musim Gugur, dan mari minum bersama sambil mendendangkan lagu kenangan pada ghairah Musim semi, Dan layanan hangat Musim Panas, serta anugerah tuaian dari Musim Gugur.

Dekatlah padaku, oh kekasih jiwaku; api mendingin dalam tungku, Menyelinap padam nyalanya satu-satu, dari timbunan abu. Dakaplah aku, sebab aku takut akan kegelapan.

Lampu meredup, dan anggur minuman membuat mata sayu mengatup. Mari kita saling berpandangan, sebelum mata tertutup. Cari aku dengan rabaan, temui daku dalam pelukan, lalu biarkan kabus malam merangkul jiwa kita menjadi satu. Kecuplah aku, kekasihku, kerana Musim Dingin telah merenggut segala..Kecuali bibir yang berkata:

Engkau dalam dekapan, oh Kekasihku Abadi,
Betapa dalam dan sekuat samudera lena, Dan betapa cepatnya subuh musim semi.

(Dari 'Dam'ah Wa Ibtisamah' -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
Kahlil Gibran
               

Tasbih dan Hajat

Selain shalat sunnah yang sudah umum seperti dhuha dan tahajjud, coba cek http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat_Tasbih.

Shalat Tasbih ini bagus untuk membuka tabir yang menutupi aura seseorang. Kalau kata Pak Wim (seorang "pintar"), guru spiritual keluarga besar mama gue, Joedhoprawiro, sebaiknya shalat Tasbih ini dilakukan 3 kali malam jumat berturut-turut (kamis malam), bersungguh-sungguh, lalu memohon doa kepada Allah. Percaya? kalau gue percaya BANGET!!! =)

Ada lagi shalat sunnah Hajat untuk mendapatkan nikmat ketenangan, ketentraman, keamanan, kedamaian, kesenangan, dijauhkan dari malapetaka, dan berungsi juga untuk menolak musuh (baik makhluk kasar ataupun halus). Kalau kata Pak Baqir (guru ngaji suami gue), shalat ini dilakukan 2 rakaat. Rakaat pertama membaca 10 kali surat Al-Kaafirun sesudah bacaan Al-Fatihah, sedangkan rakaat kedua membaca surat Al-ikhlas sebanyak 10 kali juga.

Shalat Hajat setahu gue nggak cuma untuk meminta ketenangan aja, tapi juga untuk permohonan lainnya. Selain itu, shalat ini bisa dikerjakan kapan saja da tidak terbatas oleh waktu.

August 31, 2007

ASI

Dulu gue pernah copy-paste artikel cara memerah ASI untuk ibu yang bekerja, yaitu dengan teknik marmet. Well, that method really works for me. Ga tau kenapa, gue merasa hasil perahan secara manual dengan teknik marmet jauh lebih banyak ketimbang menggunakan alat bantu seperti pompa ASI.

Seperti diketahui, hisapan bayi akan menstimulasi produksi ASI. Jadi, makin sering bayi menyusu maka produksi ASI akan semakin banyak.. dan itu gue alamin sendiri.

Minggu pertama melahirkan, produksi ASI gue nggak terlalu banyak. Kenapa?

1. Mungkin emang gue ga bakat. Bakat? eh jangan salah lho.. banyak calon ibu yang dari hamil usia kandungan 8-9 bulan (sebelum bayi lahir), ASI-nya sudah mulai netes-netes. Kalau gue sih bukan dari tipe yang begitu. Tapi bukan dari tipe begitu bukan berarti nggak bisa banyak memproduksi ASI lhoooo.

2. Waktu itu badan gue masih dalam tahap penyesuaian pasca operasi caesar. Kalau caesar, organ tubuh dari pinggang ke bawah dibius, jadinya gerak peristaltik usus juga otomatis terhenti ketika itu. Nah.. ketika pengaruh obat bius selesai, dimulailah normalisasi kerja usus. Tapi.. normalisasi ini ternyata nggak cepet. Jadi karena gerak usus belum oke (kalau kata dokter sih belum ada bising usus ketika mereka memeriksa dengan stetoskop), maka gue belum boleh makan. Akibatnya, ga ada asupan kalori sehingga dua hari pertama, belum ada ASI sama sekali. Baru hari ketiga deh ASI-nya mulai keluar.

3. Duh... karena pengaruh nomor dua itu, gue jadi sempet stress!! Mungkin itu yang disebut baby blues.. Stress ditambah takut ga bisa menyediakan yang terbaik untuk anak. Bayangin aja, anak gue jadi ga minum selama dua hari!! Banyak yang nanya kenapa sih ga dikasih formula aja dulu selama ASI belum keluar. Hmm, gue waktu itu masih mikir idealis tentang ASI eksklusif.. selain itu gue takut juga kalo anak gue pertama kali kenal susu formula, ntar malah nggak mau nyusu ama gue.. kan repot?! Tapi untungnya suami dan orang tua gue menyadarkan bahwa kondisi psikis akan mempengaruhi produksi ASI, dan kedekatan ibu dan bayinya. Well, they're right!

Nah.. setelah tenang.. produksi ASI mulai tuh meningkat sedikit demi sedikit. Apalagi mertua gue nyaranin gue minum suplemen MOLOCO-B12 yang bisa memicu produksi ASI. Trus, nyokap gue juga tiap hari selalu bikinin gue perkedel jagung, kacang-kacangan, air jeruk, dan sayur katuk yang konon bisa meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah, sekarang produksi ASI gue banyak.. ya itu didukung sama Ayodya juga sih. Ayodya nyusunya banyak banget!!

Dimana-mana, masalah ibu bekerja itu sama aja.. nggak bisa full nyusuin bayinya. Solusinya? ya perahlah ASI anda. Bisa dengan manual/teknik marmet (payudara diurut mulai dari pangkal ke bagian aerola), atau dengan pompa, tergantung mana yang lebih nyaman.

Kalau gue pribadi, di kantor gue biasa dua kali atau tiga kali merah ASI. Hal itu gue lakukan setiap 3 atau 4 jam sekali. Berhubung di kantor gue punya ruangan sendiri, ya di situlah gue memerah ASI. Kalau anda nggak punya ruangan sendiri, mungkin bisa gunakan ruang rapat. Yaaa sebisa mungkin hindarilah memerah di WC. Kalau di WC probabilitas nggak sterilnya lebih tinggi bo!

Truss..., ASI perahan itu ditampung di botol-botol susu yang ukurannya kecil. supaya lucu aja.. hehe. Selama masih di kantor, taro aja ASI perah itu di kulkas bagian bawah, jangan di freezer. Oya, jangan juga naro di suhu ruang. Kenapa? karena ASI hanya dapat bertahan selama 6 jam di suhu ruang. Pas pulang, ASI perah itu gue taro di coolbox, dan gue taburin blue ice yang sudah gue bekukan di freezer. Lumayan kan, selama perjalanan dari rumah ke kantor, ASI masih bisa terjaga.

Kalau gue, ASI perahan hari ini diberikan ke bayi untuk esok harinya. Berhubung kalau naro ASI di kulkas bawah itu bisa tahan sampai 2 hari, ya ngapain juga masuk ke freezer meskipun di freezer bisa tahan sampai 1 bulan. Masalahnya, kalau sudah ditaro di freezer, maka kandungan imunitasnya jadi nggak ada.. tapi anyhow, ASI di freezer itu masih tetap lebih baik ketimbang formula.

Nanti gimana cara ngasih ASI dingin itu ke bayi? well, jangan sekali-kali merebus ASI atau memanaskan ASI langsung dengan api. Cara yang baik adalah keluarkan ASI dingin itu dari kulkas hingga suhunya sama dengan suhu ruang. Lalu, rendam botol ASI (ingat, bersama dengan botolnya!) itu dengan air panas hingga panas ASI-nya suam-suam kuku.

Yaaa... gitu deh!

August 28, 2007

Salah, Coy!!

Tadi sore gue lihat lagi bulan yang perlahan muncul kembali.. setelah di cek di TV, emang gerhana bulan baru terjadi hari ini. Lahhh, kalo gitu yang gue lihat kemaren apaan dong? bulan ketutup awan kali ya?

August 27, 2007

Maaaaa...!!!

Senangnyaaaa, tadi pagi pas gue mau nyusuin Ayodya sebelum berangkat ke kantor, Ayodya ngeluarin satu suku kata baru lagi. Cooing sounds like “ Maaaa..”

Duuhh, ibu mana yang nggak seneng kalo bayinya udah bisa ngomong “Ma” thus can be interpreted to “Mama”. Hehehe.. gue berasa dipanggil mama sama Ayodya.

Setau gue sih bayi umur segitu sih Belum ngerti apa arti suku kata yang berusaha dia ucapkan. So, “Ma” bukan berarti “Mama”. Tapi at least dia sedang berusaha untuk berbicara. Well, meskipun begitu, tetap aja gue ke-geer-an karena berasa dipanggil.. hehe.

Ayodya pada dasarnya emang udah bawel. Pas umur sehari atau dua hari aja dia udah mulai ngoceh mulu dengan kata-kata “eh..eh..eh”. Cooing “eh-eh” ini bertahan hingga satu bulan lah. Dari mulai dia bisa ngomong “eh” sampai dia usia satu bulan, frekuensi pengucapannya pun makin hari makin sering. Duh, bawelnya.

Sebetulnya suku kata yang diucapkan Ayodya bukan Cuma “Ma”. Dari mulai satu setengah bulan, kosa katanya makin banyak aja, seperti:

“Akuuuu”

“Gheee”

“Eh”

“Aaaaa”

“Ouuuu”

“Khuuu”

“Beh”

“Ghuuu”

“Be-ghu-beh”

Tapi berhubung tadi pagi ada kata baru dan itu sounds like “Mama”, gue seneng banget..!! Alhamdulillah ya Allah..

So far, gue sih berusaha menerapkan apa yang bias ague baca di buku-buku: “Ajaklah bayi anda berbicara untuk merangsang kemampuan berbahasanya”. Setelah gue lakukan dan amati, kayaknya emang bener sih. Terbukti pas umur 2 bulan 1 minggu Ayodya udah bisa diajak ngobrol meskipun dia cooing pake bahasa bayi. Jadi berasa kayak dengerin dia sedang bercerita. Lumayan panjang lho ocehannya. Udah gitu dia pake acara senyam-senyum mulu.. Duhhh..gimana nggak gemes?!

Gerhana Bulan

Awal Agustus lalu, gue pernah baca sekilas berita tentang akan adanya gerhana bulan pada sekitar tanggal 27-28 Agustus. Dalam berita tersebut, tidak disebutkan jam berapa tepatnya akan terjadi gerhana.

Berhubung infomasinya ga terlalu jelas, dan dari dulu gue nggak pernah bisa membayangkan seperti apakah gerhana bulan itu (meskipun konon kata orang bulannya hilang!!!) jadi yaaaa gue ga terlalu peduli meskipun pengen juga sih lihat kayak apa. Tapi kalo infonya aja ga jelas, males banget kan nungguin.

Oya, dari dulu gue ga pernah kebayang lho kayak apa ya bentuknya gerhana bulan itu? karena ga kebayang aja kalo bulan, bumi, dan matahari, in order berada pada satu garis lurus dan bulan tepat masuk ke daerah umbra.. apa jadinya? Kalo gerhana matahari kan kebayang, bulan ada di antara bumi dan matahari sehingga sebagian matahari tertutup bulan dan terlihatlah bentuk cincin dari bumi.

Oke, lanjut.., sore ini gue dan suami pulang agak telat. Jam 18.10 kami baru sampai di perumahan belakang komplek tempat kami tinggal. Ketika mobil berjalan ke arah timur, di hadapan mobil kami terlihat bulan, gue langsung teringat informasi tentang gerhana bulan yang gue pernah baca itu. Langsung aja gue bahas ama suami tentang keabsahan berita tersebut. Ketika diskusi sedang terjadi, tiba-tiba aja perlahan bulan menghilang dan sekitar 1 menit kemudian muncul kembali.

Waaahhhh… Gerhana Bulan..!! Hari ini gue pertama kali melihat gerhana bulan.. bersama suami pula!! Romantisnya.. =)

August 20, 2007

Jakarta Macet?!

Meskipun lahir dan gede di Jakarta, tapi sebetulnya sudah enam tahun belakangan ini gue nggak terlalu ngerasain tinggal di Jakarta. Empat tahun pertama gue habiskan waktu gue untuk kuliah di Bandung.. jadi ke Jakarta cuma sekali-sekali aja buat main.. trus dua tahun sisanya gue tinggal di Balikpapan. Tapi ada hal yang menurut gue emang rada berubah: Ternyata Jakarta nggak semacet yang gue bayangkan.

Dulu, pertengahan sampe akhir tahun 90-an, di Jakarta rasanya kalo udah macet tuh ampun-ampunan. BIsa berjam-jam kali ya di jalan?! Tapi entah perasaan  gue aja atau emang sekarang udah banyak jalan alternatif, kemacetan di Jakarta gue rasakan tidak separah dulu.

Tiap pagi, jam 6 gue berangkat dari kediaman di Bekasi sono. Ga butuh waktu terlalu lama kok.. jam 7 udah nyampe di Kuningan. Secara gue masuk jam 7.30, masih ada waktu 30 menit di kantor untuk cek email, atau ngerjain hal-hal nggak penting lainnya. Trus, Jadwal pulang jam 4, gue tenggo donggg... kalo nggak bisa kena 3 in 1 kalo gue lagi nggak di kuningan. Nah, jam 5 gue udah bisa nyampe rumah.

Jakarta..?? hmm.. nggak ngerti ah kok bisa begitu..

August 17, 2007

Jakarta Head Office

Dua minggu lalu, maternity leave gue selesai dan gue harus ngantor kembali. Tapiiii…, kali ini gue tidak lagi ngantor di Balikpapan melainkan di Jakarta! Yup!! Jakarta, I’m home..

Anyway, bisa ngantor di TOTAL Jakarta bagi engineer muda kayak gue sebetulnya suatu hal yang nyaris nggak mungkin. Makanya gue sebetulnya rada nggak percaya juga kalo permohonan pindah gue ke Jakarta dikabulkan. Alasannya? Ikut suami.. ;) Hmm, it’s about God’s secret on why moving me out of Balikpapan.

Kenapa gue bilang sulit? Begini.., menurut analisa gue, berbeda dengan di Balikpapan, kerjaan engineering di Jakarta lebih bersifat project yang mungkin butuh orang dengan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun. Pada kenyataannya memang seperti itu. Orang-orang yang pindah ke Jakarta adalah orang-orang lama dengan pengalaman kerja so pasti di atas 5 tahun.

Kesulitan lainnya adalah relakah karyawan yang mau pindah dengan penurunan gaji yang mencapai 40%??? Ya, kalau di perusahaan tempat gue bekerja, ada semacam insentif dalam bentuk duit kalo bekerja di balikpapan yang jumlahnya 40% lebih besar daripada gaji di Jakarta. Kalo di field apalagi.., kayaknya bisa nyampe 60-80% tuh.

Then, apakah kesulitan ini berlaku pada gue?? Tentu saja tidak! Bodo amat gaji mau berkurang 40%. Selain jumlahnya masih oke, gue pikir ga ada yang bisa menggantikan arti kebersamaan tinggal satu kota dengan anak dan suami =) Oya, nyimpang dikit, karena udah tinggal satu kota, insyaAllah gue ama suami jadi beli rumah di daerah kecamatan pasar minggu.

Well, nyimpang lagi sedikit dari masalah kerjaan, banyak hal yang bisa gue pelajari dari hubungan jarak jauh. Menurut gue berdasarkan pengalaman pribadi, suatu hubungan jarak jauh bisa saja kok berhasil. Why not? Tapi memang relatif lebih berat ketimbang hubungan jarak dekat. Dan tolong digarisbawahi bahwa tidak semua orang SANGGUP menjalani hubungan semacam ini, teutama dari pihak wanita yang biasanya lebih menye-menye. Kenapa sulit? Karena dalam hubungan jarak jauh harus ada manajemen yang bagus dari kedua belah pihak mencakup niat, komunikasi, kepercayaan, kesetiaan, komitmen, rasa kangen, kemandirian, kesabaran, dan duit. Banyak hal deh yang harus dikorbankan.

Mau tahu pendapat gue untuk suatu hubungan jarak jauh? Dalam taraf tertentu masih oke-oke aja, tapi tidak untuk terlalu lama dijalani.

Balik lagi ke masalah kerjaan. Sekarang gue ikutan project, masih sebagai process engineer. Still being a process engineer? Sebetulnya emang itu yang gue mau, tapi akhir-akhir ini gue mulai menyadari betapa sebenarnya gue lebih berbakat di bidang manajemen, arsitektur, atau psikologi ketimbang menjadi seorang engineer. Makanya kalo gue sih nggak ada masalah kalo dipindah ke departemen HR. hehehehe.

Kerjaan gue sekarang adalah sebagai reviewer untuk setiap segi process di suatu project. Yaaa nge-review kerjaannya kontraktor, dan gue lebih mobile karena kantor kontraktor ga satu gedung ama user. Ada yang di GKBI, Batavia, Danamon, dll. Yang jelas, kerjaan sekarang beda banget sama kerjaan gue di Balikpapan dulu yang lebih bersifat problem solving.

Suasana kerja? Ini juga beda banget ama di Balikpapan sana. Di sini, temen-temen yang satu lantai ama gue rata-rata orang berumur semua.. maksudnya 33 tahun ke atas lah. Yang sebaya ama gue paling cuma Billy ama Bondan doang. Kalo di lantai lain sih lumayan banyak juga yang seumuran.. Tapi berhubung masih dua minggu, belum semua lantai gue jajah. Sampai saat ini gue masih menclak-menclok ke sana ke sini nyari temen makan siang dan temen nge-gosip. Kadang-kadang ikut rombongan ibu-ibu PKK, kadang-kadang ikut rombongan bapak-bapak, kadang-kadang ikut rombongannya sekretaris, kadang-kadang ikut anak-anak lantai 8, ya masih gitu deh..

Selain itu, di sini gue dapet ruangan sendiri yang tidak memungkinkan gue untuk nge-gosip sambil kerja. Apalagi konon bos besar di departemen gue itu bule galak. Oya, satu lagi, meskipun kerjaan sekarang lebih enak karena jadi reviewer, tapi ada deadline untuk setiap dokumen yang gue review..Jadi yaaaa ga ada alesan lagi untuk tidak bekerja serius.. dan tidak ada alasan lagi untuk tetap menerapkan semboyan: “digaji untuk nge-gosip”.

Pokoknya meskipun semua fasilitas dikasih, tapi ga bisa sebebas di Balikpapan dulu. Well, so far gue menikmati kerjaan dan lingkungan baru gue yang totally different. Tapi yang ga nahan ya itu.. ga bisa nggosip sambil kerja kalo lagi jenuh baca dokumen. Mau nge-gosip di telpon?? malu, coy!!! Tetangga-tetangga gue serius semua.

July 26, 2007

What?! L/XL?! Dulu S/M kok! Udah jadi ibu-ibu, Lu!

Huaaahhh!!! Siapa bilang menyusui bayi bisa bikin langsing kembali?? Well, dulu sih yang gue denger adalah: Jika kita nyusuin bayi maka badan kita akan kurus kembali dengan cepat. Hmmm, sedangkan pengalaman gue mengatakan bahwa itu tidak sepenuhnya benar!!

Yang benar adalah:

  1. Aktivitas menyusui membuat rahim mengecil kembali. Efeknya?? Perut jadi langsing kembali. Yaaaa meskipun belum selangsing pas masih gadis, tapi at least jauh lebih kecil dibanding pas hari-hari pertama pasca melahirkan. Hehe, jadi inget komentar salah satu temen gue yang nengok gue di Bunda, dua hari setelah gue melahirkan: “Huahahahaha.. Perut tuh, Put?? Kok bisa? Kan bayi lu udah keluar?!”

  2. Pada saat menyusui, makanan yang kita makan akan langsung ditransfer ke bayi kita dalam bentuk ASI. Jadi, sebenernya efek menguruskan harusnya bisa benar sih.. tapi masalahnya selesai menyusui itu biasanya ibu akan merasa lapar jadinya ya makan lagi dan hasilnya berat badan ya segitu-segitu aja..
  3. Boro-boro ada keinginan diet atau ngurangin makan untuk sekarang-sekarang ini!! Insting ibu mengatakan takut si bayi kurang gizi kalau ibunya ngotot diet.. Jadinya apa yang tersaji di meja ya dimakan! Udah gitu supaya bayi cukup gizi dan cepat tumbuh jadinya ibu harus makan makanan yang berprotein tinggi (which is kebanyakan juga berkalori tinggi). Jadinya meskipun output gede, inputnya juga kudu gede!
  4. Jika kita tidak hanya menyusui tapi juga pake acara beres-beres rumah, masak, nyeterika, ngepel, nyapu, nyuci, mungkin aja sih badan cepet kurus lagi.. Tapi kan kenyataannya ga begitu..

Dulu pas hamil kayaknya kenaikkan berat badan gue nyampe 26 Kg deh.. Hehe, hampir nyama-nyamain berat badan suami.. dan sekarang masih nyisa 13 Kg lagi dari berat badan semula sebelum hamil. Nanti lah gue diet lagi kalo udah ga nyusuin.

Masalah beres? Ternyata tidak!! Meskipun gue masih bisa terlihat sebagai seorang gadis karena sebetulnya penampakan gue ga gemuk-gemuk amat, tapi kelebihan 13 Kg ini membuat gue susah nyari baju! Secara baju-baju kerja gue yang dulu udah ga muat lagi maka gue membeli baju baru.

Meskipun udah jadi ibu-ibu, tapi umur gue kan masih 25, ogah banget kalo mesti pake baju model ibu-ibu 40-50an.. jadi pergilah gue ke bagian baju umur 20-30an. To my surprise, gue yang dulu biasa pake ukuran S atau kadang-kadang M, sekarang harus merasa nyaman dengan baju-baju XL atau kadang-kadang L!!! Sampe-sampe pas beli baju, gue udah ga ngeliat harga lagi.. wis, nyari yang muat! Pokoknya begitu suka modelnya dan muat langsung bungkus!!! Kata suami pas nemenin beli baju: “Udah, terima aja kenyataan kalo masa-masa kejayaan udah lewat.. hahaha..”

July 10, 2007

...And Balikpapan Will Never Be The Same...

Balikpapan terletak di pesisir timur bagian selatan Propinsi Kalimantan Timur. Walaupun secara geografis sangat menguntungkan bagi kemajuan perekonomiannya dan membuat kota ini secara ekonomi mampu disejajarkan dengan kota besar lainnya di Indonesia, namun ibukota Kalimantan Timur bukanlah Balikpapan. Nah, sekali lagi, ibu kota Kalimantan Timur adalah Samarinda dan bukan Balikpapan.

Kota ini berpenduduk sekitar 550.000 jiwa (April 2005), dengan luas area yang hanya 900-an km2. Dijamin, dalam sehari penuh pun anda sudah bisa khatam jalan-jalan di Balikpapan. Well, Balikpapan memang bukan kota besar, tapi sumber energi lah yang mengangkat Balikpapan menjadi besar.

Waktu kecil, nggak pernah terbayang di benak gue kalau gue akan melewatkan 2 tahun dalam hidup gue untuk tinggal atau bahkan jatuh cinta pada kota ini.

Setelah menjatuhkan pilihan pada salah satu antara Total atau Medco, gue menginjakkan kaki di kota Balikpapan pada awal 2005. Kepergian gue merupakan suatu anugerah tersendiri, karena ternyata gue dan suami (saat itu status masih "teman dekat") jadi saling kangen. Hehe..

Gue datang ke Balikpapan untuk bekerja. Sejak awal, gue ga pernah khawatir akan alam dan situasi kehidupan sosial di kalimantan yang konon (kata banyak orang di pulau jawa sini) agak mengerikan..

Ya, bisa dimaklumi lah karena banyak orang di jawa belum pernah ke Kalimantan! Melihat banyak tayangan kalimantan di televisi yang menggambarkan alam liar dan berhutan rimba, berita-berita tentang samba dan madura, belum lagi eksposur mendalam tentang banyaknya ilmu pelet di Kalimantan, suku dayak, dan gambaran yang sama tentang adanya bajing luncat (perampok) seperti halnya di jalur lintas Sumatera.. menjadikan Kalimantan terdengar agak jauh dari peradaban.

Tapiiiii, gue yakin tidak, dan ternyata bener tuh!! Balikpapan dan Kalimantan timur oke-oke aja. Malah jalan di malam hari di jalan antarkota di Kalimantan relatif lebih aman ketimbang sumatera. Dari awal juga gue udah ngerasain "beda" dibanding awal kepergian gue dulu ke Palembang.

Oke-nya lagi, ternyata di perusahaan tempat gue bekerja banyak meng-hire karyawan yang umurnya ga jauh-jauh dari gue, jadinya hidup gue di Balikpapan bener-bener penuh warna dan seru!! Belum lagi, sang pria pujaan (mantan pacar yang sekarang jadi suami gue.. hehe..) secara rutin datang menyeberangi lautan, menyambangi gue di Balikpapan..

Well, selain faktor di atas, banyak hal lain seperti keamanan, kenyamanan, kebersihan, dll yang membuat gue merasa Balikpapan is a nice place to make a living.

Ngomongin teman-teman di Balikpapan, karena kami relatif seumuran dan sama-sama merasa senasib di rantau, akhirnya kami jadi dekat satu sama lain. Berhubung waktu itu semua masih berstatus single atau in a relationship, kami sering mengadakan acara kumpul-kumpul bersama dan jalan-jalan bareng.. Pokoknya seru banget deh! Duuuhhh gue jadi kangen banget sama semua..

Anyway, sesuai kata quote yang ada, "everything will never be the same". Sekarang banyak dari kami yang sering ngumpul-ngumpul itu yang sudah menikah dan punya anak.. sehingga otomatis, kebersamaan dan acara kumpul-kumpul itu nggak sesering dulu lagi. Perhatian kami sekarang sudah beralih ke keluarga tercinta masing-masing =)

Sekarang gue sudah meninggalkan Balikpapan untuk ikut suami.. dan suatu saat kalau gue main lagi ke Balikpapan, gue yakin, Balikpapan will never be the same..

July 03, 2007

Hai Priaku, Menikahlah Denganku...

Dua hari yang lalu, kegiatan pagi gue mengurus Ayodya sedikit terhenti dengan masuknya sebuah SMS ke HP gue. Setelah dilihat, ternyata dari seorang teman -sebut saja mawar, bukan nama sebenarnya- yang akhir-akhir ini memang sedang dalam penantian sebuah keputusan. Inti isi pesannya kira-kira begini:

"...Put, akhirnya dia ngelepas gue..."

Hmm, kadang-kadang cinta emang susah dimengerti ya. Sekilas melihat  mereka, gue pikir mereka bakal "lanjut" tapi ternyata tidak. Inti masalahnya sih standar: masalah kecocokkan, nyambung atau ga nyambung, yang berujung pada masalah sreg atau ga sreg.. Tapiii, renggangnya hubungan mereka dipicu oleh satu point yang memang rada kontroversial dari jaman dulu sampai sekarang: Pihak wanita mulai mempertanyakan hubungan ke tahap selanjutnya.

Well, ini sebenernya urusan dan masalah mereka, tapi ada sedikit pelajaran yang bisa diambil dari kejadian mawar dan pacarnya, satu point yang penting dan sangat prinsip menurut gue: Do not ever ask your man for a marriage! Let him do it for you! It's about men's pride and women's esteem.

Hmm, kasus per kasus emang ga bisa disamain sih, yang mengatasnamakan keseriusan, deadline, de-el-el, tapi menurut gue -jika memungkinkan- usahakanlah tidak memulai pembicaraan ke arah sana.

Balik lagi ke kasus mawar yang lagi patah hati (hehe, gue yakin seyakin-yakinnya lu ga bakal baca blog ini), ada pesen dari usher:

If love was a bird then we wouldn't have wings
If love was a sky, we'd be blue
If love was a choir, you and I could never sing
Cause love isn't for me and you

If love was an Oscar, you and I could never win
Cause we can never act out our parts
If love is the Bible, then we are lost in sin
Because its not in our hearts

So why don't you go your way, and I'll go mine
Live your life, and I'll live mine
Baby you'll do well, and I'll be fine
Cause we're better off, separated

If love was a fire then we have lost the spark
Love never felt so cold
If love was a light then we're lost in the dark
Left with no one to hold

If love was a sport, we're not on the same team
You and I are destined to lose
If love was an ocean then we are just a stream
Cause love isn't for me and you

Girl I know we had some good times
It's sad but now we gotta say goodbye
Girl you know I love you, I can't deny
I can't say we didn't try to make it work for you and I
I know it hurts so much but it's best for us
Somewhere along this windy road we lost the trust
So I'll walk away so you don't have to see me cry
It's killing me so, why don't you go

July 02, 2007

Perang Antar Operator

Kayaknya sekarang-sekarang ini iklan bukan cuma jadi sarana promosi suatu produk, tapi sudah menjadi komoditas hiburan dan ajang unjuk kebolehan kreativitas marketing yang bersangkutan, termasuk dalam hal "mengenyek" para kompetitor seperti yang disuguhkan dalam iklan favorit gue.

...gue ga terlalu hafal dialognya, tapi kira-kira seperti ini...

Bu guru: sebelum pelajaran dimulai, kita absen dulu ya. Sepuluh rupiah per detik ke sesama XL?!

Murid 1: Saya, Bu!

Bu guru: Dua puluh lima rupiah per detik ke operator lain?!

Murid 2: Saya, Bu!

Bu guru: Ok, kita mulai pelajarannya.

Murid 3: Bu guru, kok saya nggak dipanggil?

Bu guru: Lu siape?

Murid 3: Saya syarat dan ketentuan berlaku, Bu!

Bu guru: Ini kelas bebas! Kamu ga boleh di sini. Kamu harusnya gabung sama si harus lima menit, si pemakaian berlima, si tengah malam, si sejuta satu minggu!

Murid 3: Huaaaaaaa....!!!!

Haha, asli! gue ngakak banget pas pertama kali lihat iklan itu. Sampai sekarang pun gue tetap aja suka banget ama iklan itu. Lucu sih.. Gila itu nyindirnya keliatan banget. Orang-orang periklanan itu bisaaaaa ajah berkreasi kayak gitu. Heran deh.

Iklan lucu lain yang jadi favorit gue: iklan telkomsel yang si Indra bekti lagi nonton bola di stadion, trus iklan obat penguat daya ingat (gue lupa nama produknya) yang "Kemeja biru celana kotak-kotak atau Celana biru baju kotak-kotak?!", trus iklan-iklannya A-mild, trus iklannya AS yang "mulutmu harimaumu"..

Iklan emang harus dibuat segitunya sih supaya konsumen inget.

June 21, 2007

Kontrasepsi

Salah satu rencana keluarga kami yang menyangkut masa depan adalah anak dan pendidikannya. Memang, tidak boleh ada istilah “main-main” untuk keluarga, terlebih lagi untuk anak. Sebagai titipan-Nya, anak layak mendapat kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan fasilitas terbaik yang mampu diusahakan orang tuanya.

Sejalan dengan tujuan pemerintah, keluarga kami juga berpikir bahwa kualitas mendidik anak (harap diingat, definisi mendidik tidak hanya terbatas pada istilah mengajar) akan lebih optimal jika kuantitas anak tidak terlalu banyak. Meskipun anak adalah karunia terbesar Tuhan yang bisa “datang” kapan saja jika Dia menghendaki, tetapi kita sebagai manusia bisa membatasi jumlah anak melalui perencanaan yang tepat; yaitu program keluarga berencana.

Tentunya, setelah Ayodya hadir di dunia ini, kami berencana untuk nambah anak lagi,. Dan mudah-mudahan Allah mengizinkan. Menurut gue pribadi, kehadiran saudara kandung dapat lebih memeriahkan suasana dalam keluarga selain saling memberikan hal positif bagi perkembangan psikologis anak. Dengan hadirnya saudara kandung, anak mempunyai teman berkomunikasi, belajar menghargai dan belajar berbagi sejak usia dini, de el el.

Rencananya, kapan mau nambah anak? Yaaaah, nanti dulu lah! Tidak dalam waktu dekat ini. Menurut kami berdua ada bagusnya untuk mengatur jarak kelahiran anak, karena saat ini kami sedang fokus pada perkembangan Ayodya. Selain itu, kami juga sedang belajar menjadi orang tua yang baik, dan terus saling belajar membangun tim yang solid untuk menjadikan keluarga kami sakinah mawaddah warahmah.

Yaaa, kebayang dong repot banget kalo Ayodya masih kecil gini trus perut gue udah mlendung lagi. Ayodya masih nyusu, belum bisa ini, belum bisa itu, kalo gue hamil lagi perhatian gue dan papanya juga pasti ga sepenuhnya buat Ayodya. Belum lagi stamina dan mood ibu hamil yang ga se-oke orang ga hamil. Bisa-bisa Ayodya malah ga keurus.

Menurut kami jarak 3-4 tahun adalah jarak yang bagus untuk kelahiran anak selanjutnya. Pada usia itu, diharapkan pengertian dan kemandirian anak pertama sudah mulai terbentuk sehingga gue dan suami bisa membagi perhatian untuk mengurus si kecil yang berikutnya.

Selain alasan itu, perencanaan jumlah anak dan rentang usia anak juga dilihat dari sisi ekonomi. Kami ingin sekali memberikan pendidikan terbaik untuk anak kami, maka dari itu kami benar-benar memperhitungkan kemampuan ekonomi dan kesanggupan usia kami untuk membiayai pendidikan anak-anak.

Well, sampai saat ini, berhubung masih dalam masa “40 hari”, kami masih mikir-mikir jenis kontrasepsi apa yang akan dipakai. Berbagai informasi dikumpulkan, dan walaupun informasinya begitu-begitu aja, tapi boleh lah ditaro di blog.

Jadi, menurut Dr. Gina Maya Rotty, SpOG dan situs resmi BKKBN, alat kontrasepsi itu secara umum digolongkan ke dalam dua bagian berdasarkan pengaruhnya pada hormon si wanita, yaitu: kontrasepsi hormonal dan kontrasepsi non-hormonal.

Kontrasepsi Hormonal

Yang termasuk alat kontrasepsi jenis ini adalah Susuk KB, Pil KB, dan Suntik KB. kontrasepsi hormonal mengandung hormon estrogen dan progesteron, atau kombinasi keduanya.

Pil KB

Pil KB adalah kontrasepsi berbentuk butiran obat yang diminum setiap hari pada waktu yang sama. Setiap periode minum adalah 21 hari dengan tenggang waktu 7 hari sebelum memulai periode selanjutnya. Dahulu kala, pil-pil KB berisi hormon estrogen saja. Konon pil dengan komposisi demikian tidak dipakai lagi karena menimbulkan efek samping seperti mual, muntah.

Sekarang, kontrasepsi hormonal kebanyakan berisi progesteron saja (POP = Progesterone Only Pill). Cara kerja pil jenis ini adalah dengan mengentalkan cairan leher rahim dan membuat kondisi rahim tidak menguntungkan bagi hasil pembuahan. Namun salah satu efek menggunakan pil KB yang berisi progesteron saja yaitu butuh waktu lama untuk mengembalikan kesuburan.

Sebagai pilihan lain, ada pil KB yang berisi kombinasi estrogen-progesteron (COC = Combined Oral Contraceptives) yang konon tidak menyebabkan waktu lama dalam pemulihan kesuburan. Cara kerja pil jenis ini adalah dengan mencegah pematangan dan pelepasan sel telur, mengentalkan lendir leher rahim sehingga menghalangi penetrasi sperma, dan membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan. Tapiiii, jelas dong ada efek sampingnya, yaitu membuat wajah berjerawat dan berkomedo.. Hmmm..

Susuk KB

Kontrasepsi implant atau susuk berisi hormon progesteron saja, digunakan dengan menyisipkan di lengan bagian atas. Di pasaran tersedia 3 macam susuk, yaitu yang terdiri dari 1 batang, 2 batang, dan 6 batang. Jenis 1 dan 2 batang sangat efektif untuk penggunaan 3 tahun sedangkan jenis 6 batang efektif untuk 5 tahun. Keuntungannya, segera setelah susuk diangkat, wanita dapat hamil. Kerugiannya, walaupun perubahan pola haid yang ditimbulkan masih dalam batas normal, namun kontrasepsi jenis ini harganya mahal.

Suntik KB

Penggunaan suntik KB ini adalah setiap 1 atau 3 bulan sekali. Efek samping yang ditimbulkan adalah gangguan perdarahan ringan diantara 2 masa haid, dan umumnya setelah pemakaian satu tahun sering tidak mengalami haid. Kenaikan berat badan juga biasa terjadi jika menggunakan kontrasepsi jenis ini.

Well, well, those all sound practice, tapi menurut gue main-main dengan hormon adalah sesuatu yang ga banget. Kenapa? Karena dari semua pilihan alat kontrasepsi yang ada, nggak ada satupun yang nggak bikin gendut! Gue juga ga terlalu ngerti ya pengaruh hormon estrogen dan progesteron dalam meningkatkan berat badan, tapi setau gue estrogen bisa menyebabkan retensi cairan dan garam yang bisa memicu pertambahan berat badan sedangkan progesteron bisa meningkatkan nafsu makan.. Lalu, semua harus digunakan secara teratur. Kalau nggak, ya bablas! Kalau anda adalah wanita pelupa, sebaiknya tidak menggunakan alat kontrasepsi yang membutuhkan kedisiplinan macam ini. Terakhir, alat-alat ini akan mengubah siklus menstruasi. Ketika kita perlu untuk menunda kehamilan sih oke aja, tapi ketika kita berencana untuk suatu kehamilan, akan butuh waktu lama untuk recover dan mengamati kembali siklus haid kita. Penentuan masa subur kita juga jadi akan lebih sulit.

Kontrasepsi Non Hormonal

Kontrasepsi non hormonal digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu kontrasepsi teknik (menyusui dan kalendar), kontrasepsi mekanik permanen (sterilisasi dengan tubektomi atau vasektomi), dan kontrasepsi mekanik non permanen (spiral dan kondom).

Menyusui dan Sistem Kalendar

Untuk mencegah kehamilan dengan sistem kalendar, udah pernah gue bahas jadi silahkan lihat kembali blog gue terdahulu. Well, untuk point menyusui, ternyata aktivitas menyusui bayi secara eksklusif (dalam 4 hingga 6 bulan pertama) menjadi cara alamiah untuk mencegah kehamilan. Pada saat menyusui, tubuh ibu memproduksi hormon prolaktin. Sementara secara timbal balik, kadar hormon ini menjadi tinggi untuk bisa tetap merangsang produksi ASI. Nah, sebagai efek sampingannya, peningkatan hormon prolaktin menyebabkan ovulasi tidak terjadi sehingga menstruasi pun jadi tertunda. Pada saat menyusui ini, tubuh ibu tak mampu menghasilkan sel telur yang matang. Jadi meskipun sel sperma berhasil masuk, sel telur yang ada tidak siap untuk dibuahi. Alhasil, kehamilan pun tidak terjadi.

Sterilisasi

Sterilisasi merupakan cara mantap atau permanen untuk mencegah kehamilan. Cara ini bisa dilakukan baik terhadap pria ataupun wanita. Pada pria disebut vasektomi (tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma) sedangkan pada wanita disebut tubektomi (pengikatan atau pemotongan saluran yang menghubungkan indung telur (ovarium) dan rahim). Keuntungan dari penggunaan kontrasepsi jenis ini adalah tidak adanya perubahan pada kemampuan dan kepuasan seksual.

Spiral

Bentuk_spiral_1 Spiral_dalam_rahim

Spiral disebut juga AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) atau IUD (intra Uterine Device). Penggunaan kontrasepsi jenis ini adalah dengan memasukkan alat kecil yang terbuat dari bahan plastik dan lentur ke dalam rongga rahim. Spiral ini dapat digunakan dalam jangka waktu  tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun. Konon, penggunaan spiral ini bersifat cocok-cocokkan. Jadi pada sebagian wanita pengguna dapat menimbulkan pendarahan sedangkan pada wanita lainnya tidak menimbulkan efek apapun.

Kondom

Bagaimana dengan kondom? kondom merupakan kontrasepsi modern yang paling sederhana. Dibanding alat kontrasepsi lain, kondom memang lebih aman karena tidak memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, dan dapat mencegah infeksi penyakit menular seksual (PMS).

Kerugiannya? Menurut www.bkkbn.go.id, beberapa pria merasa bahwa kondom mengganggu hubungan seks dan mengurangi kenikmatan. Selain itu, ada kemungkinan terjadi alergi terhadap zat pelumas yang menempel pada kondom. Oya, jangan lupa, ada batas waktu penggunaan kondom, lho.. jadi jangan pake kondom yang expired kalau nggak mau terjadi penis expiry. Hehe.


Satu hal yang diingatkan oleh Dr. Sarsanto adalah soal pemakaian kondom. Ia bilang, kondom harus ditarik sampai di pangkal penis. Yang sering terjadi, kondom hanya dipakai sampai tengah saja sehingga terjadi kebocoran atau tertinggal. Hiii.. kebayang ga sih kondom ketinggalan di dalem?!

Spermisida dan Dingklik?

Pernah dengar istilah spermisida? Seperti juga definisi dari insektisida yang berarti pembunuh serangga, spermisida juga berarti pembunuh sperma. Spermisida ini juga merupakan cara efektif pencegahan kehamilan. Tapi gue nggak tau ini digolongka ke bagian mana. Kayaknya sih kontrasepsi mekanik non permanen. Bentuknya seperti tissue. Harus dimasukkan ke dalam vagina setiap kali sebelum berhubungan, dan dilakukan sebelum mengadakan hubungan seks. Namun tissue KB ini tidak mudah didapat.

Kalau KB dingklik? Hmm.. entah siapa yang membuat istilah ini, tapi dokter ahli kandungan kita – Dr.Nugroho Wibisono, SpOG – berperan besar dalam mempopulerkan istilah ini kepada khalayak, terutama teman-teman beliau. Cara ini dinilai efektif bagi pasangan dimana tinggi badan si wanita lebih dibanding si pria.

June 02, 2007

Ayodya Aryandi: Aku Lahir di Bunda

Udah lama ga nulis, jadi kangen juga nih nulis sesuatu di Blog. Sebenernya udah lama pengen banget nulis, tapi belum sempet. Maklum aja, aktivitas baru gue dalam mengurus bayi bener-bener butuh adaptasi dalam banyak hal terutama jadwal kegiatan sehari-hari yang beda banget antara sebelum dan sesudah si kecil lahir.

Well, di blog ini gue mau cerita tentang proses kelahiran si kecil dan aktivitas gue belakangan ini.

Karena telah mengetahui jenis kelamin si kecil adalah laki-laki sejak usia kandungan 5 bulan, maka gue dan suami sepakat untuk memberinya nama: Ayodya Aryandi. Nama depan adalah nama pemberian suami, sedangkan nama belakang adalah pemberian gue.

Ayodya diambil dari epos Ramayana, yang merupakan ibukota negeri Kosala yang diperintah oleh Rama. Suatu negeri yang tenang, aman, damai, dipenuhi keadilan dan kebijaksanaan. Sedangkan Aryandi diambil dari kata Arya yang merujuk pada bangsa Arya yang merupakan bangsa yang dikaruniai keungulan dalam berpikir. Kalau kata suami, mengutip dari buku Early Modern History of Indonesia, Arya berarti pemimpin misi perdagangan ke China pada masa kejayaan Majapahit di Abad 14. Selain itu, kata aryandi kalau dibolak-balik hampir-hampir mirip dengan nama Andriani yang merupakan nama belakang gue.. hehehe.. nggak ding! ngga ada sangkut pautnya sama itu kok.

Pakai embel-embel Wibisono dibelakang nama Ayodya Aryandi? Kami sepakat untuk tidak menggunakan nama belakang suami dengan alasan independence bagi Ayodya.

Gue dan suami percaya bahwa nama adalah doa. kami berdua berharap suatu saat kelak Ayodya Aryandi bisa menjadi anak yang memiliki budi pekerti yang baik, shaleh, dan juga memiliki kemampuan berpikir yang baik. Amiiin. Doain yaaa..

Sampai saat ini, jujur kami masih bingung tentang nama panggilan untuk Ayodya. Ada yang menyarankan Yodi, Oddie, Yodya, Andi, de el el.. tapi tetap saja samapi sekarang kami memanggil Ayodya dengan sebutan Ayodya. Hehe.. terdengar agak kepanjangan sih untuk sebuah nama panggilan.. tapi ya sutra lah!

Ayodya lahir pada Hari Kamis, tanggal 17 Mei 2007 di Jakarta, jam 21.40 WIB di Rumah sakit Bunda, Menteng. Kalau menurut penanggalan Jawa, Ayodya lahir dengan weton Jumat Kliwon karena sudah lewat waktu shalat Ashar pada Hari Kamis itu. Apa artinya weton jumat kliwon? silahkan baca sendiri di www.indospiritual.com. hehehe.

Ayodya lahir pada usia kehamilan 38-39 minggu HPHT, saat gue mau berangkat ke salon untuk pijat dan spa.. (hehe,udah hamil tua gitu teteuupp aja nekat!). Karena sebenarnya hari perkiraan lahir Ayodya adalah tanggal 27 Mei 2007, jadi gue bener-bener nggak nyangka kalo Ayodya bakal lahir tanggal 17 Mei 2007 dengan diawali insiden pecah ketuban.

Pas banget sesaat sebelum gue masuk mobil, tiba-tiba gue ngerasa pipis dan langsung deras. Lhooo... gue bingung banget..!!! meskipun hamil tua dan sering banget pipis, nggak biasanya gue nggak bisa nahan pipis. Setelah dilihat, ternyata cairannya bercampur darah. Waahh, nyokap bilang itu air ketuban.. alhasil, tujuan awal berangkat ke salon dibatalkan menjadi ke rumah sakit.

Prapersalinan Setelah diperiksa di ruang pra-persalinan (ngecek apakah benar itu air ketuban apa bukan pake lakmus merah, trus meriksa denyut jantung bayi, dan pembukaan), baru kelihatan ternyata tidak ada kontraksi sama sekali. Jadilah akhirnya gue diinduksi dengan harapan pembukaan lancar sehingga bisa melahirkan secara normal. 5 jam setelah diinduksi, ternyata cuma sampai pembukaan 6.. dan akhirnya gue diinduksi sekali lagi. Satu jam setelah itu (which is udah 8 jam setelah insiden pecah ketuban) ternyata tidak ada kemajuan dalam pembukaan jalan lahir, tetap wae berada di pembukaan 6.. jadilah akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan sectio dengan alasan keselamatan bayi. Jadi, menurut ilmu kedokteran, kelahiran harus terjadi pada rentang 8-9 jam jika diawali pecah ketuban. Akhirnyaaa, pada jam 21.40 WIB lahirlah Ayodya Aryandi.Ayodya_di_inkubator_sesaat_setelah_lahir

Ayodya_usia_1_hari Ayodya lahir dengan berat 3,4 Kg dan panjang 50 cm. Alhamdulillah normal dan sehat. Karena lahirnya di rumah sakit Bunda, Ayodya dapet papan nama yang diatasnya ada tulisan "Aku Lahir di Bunda" seperti judul blog ini. Hehe.. info-nya penting banget sih!

Pada semua bayi yang cukup umur, kenaikan kadar billirubin di minggu pertama pasti terjadi karena fungsi hati bayi belum sempurna sehingga bayi tampak kuning. Ini normal kok, asal kadar billirubin dalam darah bayi nggak lebih dari 12 mg/dL. Tapi alhamdulillah karena Ayodya rajin nyusu dan rajin dijemur setiap pagi maka fungsi hatinya mulai matang dan kuningnya berkurang. Doain Ayodya selalu sehat yaaa.

Meskipun nggak merasakan melahirkan secara normal, tapi setidaknya gue merasakan juga sih sakitnya kontraksi akibat induksi. Kata orang sih kontraksi akibat induksi lebih sakit karena jalan lahir dibuka paksa. Yaahh, wallahualam ya. Gue sendiri juga nggak bisa ngebandingin. Tapi untung suami selalu ada di samping gue.. Dukungan kehadiran orang tercinta memang sangat berarti. Makasih ya sayang..

Meskipun pengeeennn banget ngelahirin secara normal, gue sendiri masih nggak bisa meraba-raba alasan kenapa Allah nggak mengizinkan gue melahirkan secara normal. Tapi gue percaya ada pelajaran yang bisa gue dapet dari kelahiran sectio ini.

Kalau soal luka jahitan di perut pasca persalinan, alhamdulillah sudah baik.. gue nggak nyangka juga bisa cepet pulih meskipun di hari pertama sempet kesakitan setiap bangun dari tempat tidur, bersin, dan ketawa. Trus kalo jalan mesti pelan-pelaaaaannnn banget, kalo nggak bakal sakit banget!! trus nggak bisa bungkuk, wah repot deh!Belum lagi gue nggak bisa mandi gebyar-gebyur, harus pake washlap.. duhh!! gue emang nggak suka mandi sih.. tapi bukan berarti gue merasa nyaman dengan "mandi washlap". Tapi sekali lagi Alhamdulillah luka di perut gue sudah pulih.. Dan gue udah bisa mandi gebyar-gebyur.. Horreeeee!!!

Tampang_ayodya_sekarang O ya, kalo kegiatan gue sekarang ya ngurus bayi.. mandiin, jemur, nyusuin, tidur, makan, ganti popok, nyusuin lagi, makan lagi, ganti popok lagi.. dan seterusnya. Bergadang?! pasti!!! untungnya suami selalu siap membantu. Suami bisa segala macem lho dalam mengurus bayi kecuali menyusui. Hehe..

Awalnya sih agak canggung ya mengurus anak.. wah, kerepotan sendiri deh! tapi lama-lama terbiasa juga.. Dan ternyata bener lho apa yang dibilang orang.. anak itu ngangenin! bawaannya kangeeennn dan gemesssss mulu! Pokoknya being parents is so wonderful! Thanks Allah.

May 10, 2007

Tukang Sapu

Tadi pagi, nyokap cerita masalah tentang tukang sapu yang biasa kerja di rumah nyokap. Well just call him Aki (common sundanesse nick name for grandfather), karena dia emang udah tua.

Dulu, si Aki ini kerja sebagai tukang sapu jalan dengan wilayah kerja di daerah sekitar rumah orang tua gue. Dia kerja legal dibawah Dinas kebersihan Jakarta. Si Aki kerja 8 jam sehari dengan bayaran X rupiah per bulan.

Ga tau gimana cerita awalnya, yang gue tahu si Aki ini sering nyambi bersihin halaman rumah nyokap, pas dia lagi lewat. Semua itu 'dihargai' oleh nyokap dengan bayaran pantas (nyokap cerita kalo ga salah si Aki dibayar sekitar seperempat gaji Aki sebulan (X/4) untuk nyapu-nyapu dikit di halaman rumah nyokap). Well, sekarang mana ada yang gratisan?!

Beberapa hari yang lalu, si Aki dateng ke rumah nyokap untuk minta pekerjaan (ya seperti biasa, nyapu-nyapu halaman rumah nyokap) dengan alasan dia sudah diberhentikan dari pekerjaannya terdahulu oleh Dinas Kebersihan dan sekarang dia sudah tidak lagi punya penghasilan. Yaaa mungkin karena kasihan atau gimana, akhirnya setelah negosiasi, nyokap setuju untuk mempekerjakan dia satu jam sehari untuk nyapu halaman rumah dengan bayaran sepertiga gajinya yang dahulu di Dinas Kebersihan (X/3) per bulan.

Kenapa cuma satu jam? ya si Aki sendiri yang minta begitu..

Nyokap gue pikir harusnya sudah sangat pantas si Aki menerima bayaran sebesar itu (X/3) dengan jam kerja yang relatif sangat sebentar (cuma seperdelapan dari waktu kerja dia terdahulu), hanya untuk menyapu halaman rumah..even dia ga berkewajiban mengurus semua tanaman yang ada di rumah. Cuma nyapu thok! Ga tega juga sih nyuruh-nyuruh orang yang udah tua begitu kerja full time ngurusin halaman sampe ke tanaman-tanamannya.

Well, masalahnya muncul tadi pagi. Si Aki datang dan dia minta bayarannya per bulan dinaikkan dengan jam kerja yang tetap segitu. Alasannya? sekarang dia hanya kerja di rumah nyokap. Ga ada penghasilan tambahan.

Yaaa.. jangankan nyokap, gue yang denger juga jadi sebel banget. Ga nyangka aja si Aki bisa jadi begitu. Udah diperlakukan baik-baik malah ngelunjak. Yang gue tahu sih nyokap gue gampang kasihan sama orang, jadi biasanya sih tanpa dia minta, gajinya aki akan dikasih lebih dari yang dijanjikan. Tapi kalo si Aki udah berani minta lebih duluan, malah respek nyokap ke dia jadi berkurang.. kayaknya sih ga akan dikasih lebih.

Setelah ngobrol-ngobrol, si Aki akhirnya bilang akan pikir-pikir lagi untuk menerima saja kesepakatan yang terdahulu atau berhenti sekalian. (Heiii.. dulu yang minta kerjaan juga siapa?!)

Hm, kadang-kadang bingung juga sih ama pola pikir orang-orang yang begitu.. dan jadi bingung gimana kita harus bersikap terhadap orang-orang yang begitu? diperlakukan dengan baik malah ngelunjak, nggak dibaikin juga salah karena orang-orang kayak gitu emang seharusnya dibantu.

Kalau dipikir apakah kami yang kurang empati? rasanya nggak ya..

May 09, 2007

Persiapan

Tadi suami ngajak ke rumah sakit, tempat dimana si kecil rencananya akan dilahirkan. Selain konon fasilitas dan pelayanannya oke, sengaja kami pilih rumah sakit tersebut karena lokasinya dekat sekali dengan rumah. Survey lokasi menjadi sangat penting menurut kami berdua, karena meskipun letaknya dekat dan udah tau dari dulu kalo lokasinya pasti di daerah X, tapi kalo ga dijalanin langsung bisa aja pas ‘saatnya’ jadi bingung sendiri trus jadi pake acara salah belok, salah muter, kebablasan, dll.. bikin tambah panik deh.

Di rumah sakit tersebut, kami melakukan registrasi dan reservasi sesuai dengan hari perkiraan lahir si kecil. Kalo soal waktu lahir yang mungkin maju atau mundur sih ga masalah, yang penting calon pasien yang sudah terdaftar akan diutamakan.

Selain daftar dan booking tempat, suami juga mengingatkan untuk bertanya mengenai pembuatan akte kelahiran. Jadi ternyata ada bagian di rumah sakit tersebut yang bisa dimintai tolong untuk mengurus akte kelahiran si kecil. Persyaratannya ga sulit, antara lain:

  1. Surat kuasa (kecuali kalo ngurus sendiri)

  2. Copy suratketerangan kelahiran dari rumah sakit
  3. Surat keterangan kelahiran asli dari kelurahan tempat dimana pasangan tinggal

  4. Copy buku nikah

  5. Copy kartu keluarga

  6. Copy KTP suami dan istri

Persiapan lain yang telah gue lakukan adalah mengisi koper dengan perlengkapan-perlengkapan yang akan dibutuhkan oleh gue, suami, dan si kecil di rumah sakit nanti. Jadi begitu ‘kontraksi’, udah ga akan ribet lagi nyiap-nyiapin perlengkapan dan pernak-pernik lain. Tinggal angkat koper, dan go!!

Baca-baca buku persiapan melahirkan juga menjadi salah satu persiapan gue selain berdoa, tentunya. Meskipun gue membaca referensi yang berbeda, namun buku-buku itu menyatakan hal yang sama mengenai ‘tanda-tanda kelahiran’. Yaaa fenomena umum lah: Kontraksi dan mules-mules.

Kontraksi yang bagaimana?

Nah, kata buku-buku itu (dan kata orang-orang yang udah pernah melahirkan), sakitnya berasa seperti gejala pre-menstruation yang menyebar dari belakang pinggul lalu kea rah depan kemaluan. Gejala ini katanya makin lama makin sering dan tidak hilang dengan perubahan posisi ibu (misalnya dari duduk ke berdiri, kontraksi dan rasa sakit ga akan hilang).

                        

Hwaduh, masalahnya dulu-dulu gue nggak pernah ngerasain sakit apapun pas lagi mens. Jadi kayak apa rasa sakitnya belum kebayang di gue. Tapi mudah-mudahan aja gue siap dan ga terlalu kaget lagi nanti pas ‘saatnya’.

May 01, 2007

Deg-degan..

Kecilku sayang..

Sekarang sudah tanggal 1 Mei 2007.. Due date counting have started eventhough still weeks to come as an estimation..

Mama dan Papa really miss you, our dearest Kecil. Really can't help to see you soon. Setiap selesai shalat dan setiap saat ingat kamu, Mama Papa selalu berdoa untuk keselamatan kita semua, kecilku sayang. Bantu Mama pas melahirkan, ya sayang..

Mudah-mudahan Allah masih memberi izin kepada kita -kamu, mama, papa, dan insyaAllah ada adik nanti- untuk bersama-sama menempuh hidup di hari-hari setelahnya.. Bersama-sama dalam suatu keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah..

Mudah-mudahan Mama dan Papa bisa selalu berada di jalan Nya, Jalan yang lurus, jalan yang benar, sehingga kami berdua bisa mendidik dan mengarahkan kamu dengan baik sampai saatnya kamu membangun sendiri keluargamu di masa depan nanti.

Kecil, mudah-mudahan kamu bisa menjadi anak yang baik, shaleh, mengerti makna hidup, dan menjadi orang yang hanya takut pada Allah dan aturan-aturannya.

Kita berdoa bareng-bareng ya, Sayang.. Ini Mama dan Papa bentar lagi juga mau shalat bareng, berdoa semoga Allah memberi izin-Nya pada kita. Amiiin.

April 13, 2007

Me: Before and After

Test2_1

Tadi baru check-up lagi ke dokter kandungan..

Duh, kalo dihitung2 berat badan gue udah naik banyak banget..!

Nih, spesial buat Grizka yang pengen lihat betapa gendutnya gue sekarang. Hehehehe...

April 11, 2007

Si Kecil: 34 Weeks

Wah.., Alhamdulillah.. ga kerasa banget tanggal 16 April 2007 kehamilan gue masuk minggu ke 35. Due date-nya? InsyaAllah beberapa minggu lagi. Umumnya sih bayi akan lahir pada minggu ke 40-42 HPHT. Tapi dalam beberapa kasus, usia 37 minggu HPHT pun sudah bisa lahir.

InsyaAllah, kalau Allah mengizinkan, gue pengen ngelahirin secara normal. Jadi nggak perlu operasi. Kalau kata orang-orang yang udah pernah ngelahirin normal sih proses recovery ibu akan lebih cepat. 6 jam setelah melahirkan aja udah bisa jalan-jalan, nge-gendong si kecil, nyusuin, pake korset, de el el. Tapi ya emang mesti tahan sakit aja kali yaaa dalam proses melahirkannya.

Dipikir-pikir, kalau ngelahirin via Caesar (tanpa ada indikasi medis tertentu) kayaknya cuma akan memindahkan rasa sakit pas ngelahirin, ke rasa sakit pasca ngelahirin. Kata tante gue sih recovery-nya bisa sampe 2 minggu-an. Belum lagi mesti sering-sering kontrol bekas jahitan. Lagian orang jaman dulu juga ga ada yang ngelahirin via Caesar kan? Mereka-mereka itu baik-baik aj